Dalam rilis yang diterima detikcom, Jumat (2/1/2009), MER-C seharusnya memberangkatkan 3 orang. Namun, karena masuknya dana bantuan dari masyarakat Indonesia ke rekening dan SMS donasoi MER-C untuk Palestina, maka MER-C menambah tim menjadi 5 orang.
Formasi Tim MER-C untuk Palestina awalnya hanya terdiri dari 1 dokter spesialis bedah tulang, 1 dokter umum dan 1 relawan non medis sebagai logistik dan pendata. Namun, seiring dengan penambahan donasi ini, MER-C memutuskan untuk menambah 2 relawan lagi, yaitu dokter spesialis anastesi (ahli bius) dan 1 relawan non medis. Penambahan ini, khususnya dokter spesialis anastesi dilakukan untuk lebih mendukung tindakan operasi bedah MER-C di lapangan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
penyerangan Israel.
"Kami menyadari kesulitan khususnya akses masuk yang akan dihadapi karena perbatasan antara Mesir dan Jalur Gaza yang dijaga sangat ketat oleh tentara Mesir dan tentara Israel," ungkap dr. Joserizal Jurnalis selaku Ketua Tim.
Lebih lanjut dokter spesialis bedah tulang ini menjelaskan Tim MER-C akan standby di perbatasan sampai bisa mendapat akses masuk ke Jalur Gaza. Apabila Tim MER-C bisa masuk ke Jalur Gaza, maka Tim akan melakukan operasi kepada para korban. Namun apabila ternyata Tim MER-C tidak bisa masuk ke Jalur Gaza, maka Tim MER-C akan berperan sebagai transporter.
"Bila bantuan tidak dapat kami berikan langsung, maka bantuan tersebut hanya akan kami serahkan melalui Lembaga Palestina yang ada di Gaza," tegas dr Joserizal. (asy/asy)











































