Karena caleg begitu banyak, pertigaan dan perempatan akan berhias foto caleg berbagai ekspresi. Jumlahnya puluhan. Wajahnya sumringah denganย senyum lebar-lebar. Sebagian mengangkat tangan tinggi mengepal. Dan untuk meyakinkan, pada umumnya menampilkan pula foto ketua umum partai disamping foto caleg.
Akankah sesemrawut itu?ย "Kita bikin kesepakatan, perempatan atau pertigaan mana yang boleh dipasang. Bagi-bagilah," kata Sarwoto, salah satu tim sukses caleg nomor 5 dari partai tertentu di Kelurahan Cilincing, Jakarta Utara, Selasa (30/12/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tetapi, siapa yang mengawasi pelaksanaa aturan itu? "Di tiap wilayah itu kan ada orang yang berjaga. Ya kita minta izin dia untuk mengawasi," jawab Sarwoto.
Orang yang dimaksud adalah preman yang mangkal di pertigaan atau perempatan tersebut. Tiap preman mengutip sejumlah uang supaya spanduk calegnya tidak dicuri. Makin ramai pertigaan/perempatan, makin tinggi "uang rokok" yang harus disetor.
"Ya ngasih uang rokoklah. Rp 20.000 biar dijagain," imbuh ayah empat anak ini.
Uang itu diterapkan serupa, meski yang memasang "sesama preman". Menurut Ogut, salah satu tim sukses yang berwajah sangar, pihaknya tetap memberi tip meski itu adalah teman sendiri.
"Sama teman sendiri, kasihlah uang rokok. Rp 30.000 cukup. Itu untuk spanduk ukuran besar," ucap Ogut, salah satu tim sukses di kawasan Tanjung Priok.
Selain memberi pungutan, baik Sarwoto maupun Ogut telah menyepakati titik mana yang akan dipasangi spanduk. Koordinasi antar tim sukses kerap dilakukan supaya tidak berebut lokasi.
"Intinya saling menjaga hubungan. Kan nggak mungkin satu tiang dipasang 20 spanduk," celetuk Sarwoto kalem.
Hmm....demokrasi langsung memang mahal.
(Ari/nrl)











































