"Kalau dulu kan yang basah cuma (tim sukses) nomor jadi. Sekarang, nomor berapa pun ada duitnya," kata Sarwoto, salah satu tim sukses caleg nomor 5 dari parpol tertentu di Kelurahan Cilincing, Jakarta Utara, Selasa (30/12/2008).
Tim sukses seperti dirinya yang kini hanya jadi bobotoh nomor 5, siap menerima gelontoran dana segar tidak sedikit. Meski nilainya tidak disebut, dia diwanti-wanti untuk menggalang massa, mendulang suara, kampanye terbuka, membuat atribut kampanye dan urusan tetek bengek lainnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Layaknya Sarwoto, sebut saja Ogut. Pria sangar bertato ini bertugas menjadi pendulang suara ditempat-tempat 'kasar' di Jakarta Utara. Tempat itu seperti terminal, stasiun, pelabuhan, kafe remang-remang hingga lokalisasi. "Intinya memastikan suara untuk si A," tutur Ogut tanpa mau dikutip si caleg dimaksud. Atas pekerjaannya, Ogut diganjar Rp 10 juta.
"Itu ongkos bersih sampai pencoblosan," celetuk pria bertubuh kekar tersebut.
Lantas, apa saja yang dilakukan oleh Sarwoto maupun Ogut? Praktisnya, kedua tim sukses itu menyebar stiker, menempel poster, membentangkan spanduk hingga pengerahan massa pada kampanye terbuka. Jadi, jangan heran bila memasuki 2009, banyak poster caleg makin banyak, makin ramai, makin semrawut.
"Senyumnya itu loh. Saya sampai ketawa sendiri, melihat caleg saya di poster. Kayak bintang sinetron, pakai peci segala," ucap Sarwoto yang tidak menduga calonnya bisa 'narsis' di depan kamera.
Tertarik mencoba? (Ari/ken)











































