Pusat, Anom telah menggelar lapak sejak Minggu lalu. Belum laku keras, tetapi
masih bisa untuk dibawa pulang.
"Saya hanya menjajakan. Ada juragan yang punya. Tiap terompet, saya dikasih
sepertiganya," cerita Anom dilapaknya, Selasa (30/12/2008).
Tetapi bukan perkara terompet yang membuat suaranya lirih. Ada persoalan besar
baginya yang membuat merintih, pelan-pelan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
mantan warga Taman BMW, Tanjung Priok, Jakarta Utara, ini.
Rumahnya beserta ribuan rumah tetangganya ludes 'dimakan' satpol PP. Pagar beton
tinggilah yang kini menggantikan. Di atas taman, rencananya akan didirikan stadion Persitara.
"Banyak teman mencar tidak ketahuan. Sanak famili jadi susah ketemu," imbuh Anom
bercerita tentang efek penggusuran terhadap hubungan kekerabatannya.
Menilik sekilas, tahun 2008 memang penuh dengan drama penggusuran. Baik berskala
kecil maupun besar-besaran. 5 wilayah (Jakarta Pusat, Utara, Timur, Selatan dan
Barat) menyumbang cerita sendiri-sendiri.
Di Jakarta Utara ada penggusuran kolong tol dan Taman BMW. Di Jakarta Pusat
penggusuran pedagang keramik dan rotan Rawa Sari. Jakarta Timur menyisakan kisah
penggusuran perempatan "Coca-cola" dan di Jakarta Barat di sepanjang bantaran
Sungai BKB.
"Saya harap nggak ada gusur-gusuran lagi. Kami capek pindah-pindah terus," pinta Anom tanpa mau difoto.
Permintaan Anom jadi gong 2009. Akankah Pemprov DKI Jakarta membuat terobosan kebijakan yang lebih cerdas tanpa membuang warga miskin? Ataukah akan terus-menerus mempraktekkan ilmu lama, gusur dan terus menggusur? (Ari/irw)











































