Menyewa sebuah mobil bak terbuka, Thamim sudah meninggalkan kampungnya di Bekasi menuju Jakarta seminggu sebelum malam tahun baru tiba. Tujuannya ke jalan Hang Tuah Raya, Jakarta Selatan. Di tempat itu ia akan berdagang terompet. Lokasi ini dipilihnya lantaran letaknya yang strategis, dekat dengan jalan Sudirman dan jalan Asia Afrika. Dua lokasi ibukota yang bakal ramai di malam pergantian tahun baru nanti. Setiap harinya, ruas jalan ini juga ramai dilewati kendaraan dari arah Senayan menuju Blok M.
Di atas trotoar ia menggelar dagangannya. Ratusan terompet berbagai model digantung di rak-rak bambu yang sudah disiapkan. Sebagian masih tersimpan di dalam karung. Beberapa terompet ukuran besar ia bungkus dengan plastik agar tak rusak. Di tempat itu pula ia mendirikan tenda sederhana dari terpal yang dikaitkan ke rak-rak bambu sebagai tempat berteduh. Selembar tikar tergelar dibawahnya
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di sepanjang jalan itu, Thamim tak sendirian. Belasan orang lainnya juga menjadi pedagang terompet dadakan. Mereka berjejer di sepanjang trotoar dengan rak-rak bambu untuk memajang terompet-terompet yang dijual. Ada sekitar 15 pedagang. Rata-rata mereka membawa 300 hingga 1000 terompet.
Para penjual terompet musiman di tempat terebut rupanya satu kampung dengan Thamim di Tambun, Bekasi. Profesi mereka sehari-hari ada yang sebagai petani, tukang ojek, dan adapula yang pedagang sayur di pasar seperti Thamim.
"Saya yang paling tua disini," akunya.
Thamim sudah belasan tahun melakoni profesi sebagai pedagang terompet musiman. Awalnya ia mengikuti jejak sang ayah yang kerap berjualan terompet menjelang malam tahun baru di Jakarta. Setelah ayahnya wafat 6 tahun silam, pria berusia 40 tahun ini tetap melanjutinya lantaran tergiur untung besar yang bakal diperoleh.
Lokasi berjualannya awalnya berpindah-pindah. Namun, sejak 4 tahun lalu, Thamim sudah menetapkan untuk berjualan di jalan Hang Tuah Raya ini.
"Enak, kalau malam tahun baru banyak mobil lewat sini," katanya lagi.
Terompet yang dijual Thamim dibuat sendiri di rumahnya. Ia mengaku mempersiapkan 500 terompet sejak awal bulan Desember. Dari hasil berjualan sekitar seminggu di Jakarta, Thamim mengaku bisa mengantongi keuntungan bersih hingga Rp 2 juta. Modal yang dikeluarkan Thamim untuk membuat terompet diakuinya memang besar. Tapi, ia yakin, keuntungan yang bakal diraupnya juga besar.
"Modalnya 3 juta, yang lain ada yang 5 juta. Bisa untung 2 juta-an lah," ungkapnya.
Terompet yang dijual Thamim beraneka ragam bentuk. Harganya bervariasi tergantung ukuran dan modelnya. Terompet berbentuk corong sepanjang 20 cm dijualnya seharga Rp 5 ribu. Model ini yang termurah, dan hanya dibuat dalam jumlah sedikit.
"Yang model gini udah jarang yang beli, saya buat cuma 100 biji aja," ceritanya soal terompet model lama yang kini sudah jarang peminatnya itu.
Yang laris dibeli saat ini adalah terompet model baru berbentuk menyerupai alat musik seperti saxophone, trombone, dan tanjidor. Model lain yang juga laris adalah terompet berbentuk ular naga. Aneka macam terompet model baru itu harganya memang lebih mahal ketimbang terompet model lama berbentuk corong. Selain karena lebih rumit dalam pembuatannya, karton yang digunakan untuk membuat terompet juga lebih banyak.
Meski lebih mahal, terompet model baru itu malah banyak peminatnya. Misal saja, terompet model trombone ukuran kecil 30 cm, Thamim mematok harga Rp 10 ribu. Semakin besar ukurannya, semakin mahal pula harganya.
"Model begini banyak yang cari. Yang paling besar ukuran 150 cm kita jual Rp 60 ribu aja ada yang beli," terangnya sambil mengambil terompet berbentuk saxophone berukuran besar dalam karung.
Soal harga, Thamim dan penjual terompet lainnya buka rahasia. Ternyata, mereka menetapkan harga yang berbeda bagi para pembelinya. Jika pembelinya orang bule, ia mengaku menjualnya 2 kali lipat dari harga normal. Langkah ini dilakukan, menurut Thamim, karena orang bule yang membeli terompet mereka nyaris tak pernah menawar harga. Berapapun harga yang diminta Thamim cs, para bule-bule itu langsung membayarnya.
Beberapa hari ini terompet Thamim yang laku terjual per-harinya memang sedikit. Ia mengaku hanya mampu menjual 3 hingga 5 terompet per hari. "Masih sedikit," ujarnya.
Namun, Thamim tak khawatir. Menjelang malam pergantian tahun baru, ia yakin,
terompetnya akan terjual habis. Seperti tahun-tahun sebelumnya, tak pernah sekalipun Thamim membawa pulang terompetnya ke rumah.
"Selalu habis, kalau sudah tinggal dikit saya jual murah aja," jelas Thamim.
Meskipun yakin terompetnya akan ludes terbeli, Thamim dan rekan-rekanya sesama penjual terompet mengkhawatirkan satu hal yang tidak diharapkan mereka terjadi di malam pergantian tahun baru.
"Jangan hujan deh. Kalau gitu susah laku," tandasnya.
(Rez/irw)











































