Prosesi mengelilingi tembok kraton sejauh 6 kilometer itu dilakukan sejak hari Minggu (28/12/2008) mulai pukul 21.00 WIB hingga Senin (29/12/2008) dinihari.
Saat berkeliling benteng, warga berjalan kaki melakukan tapa bisu atau tidak berbicara sama sekali, meski mereka berjalan secara berkelompok.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Prosesi Mubeng Benteng yang dilakukan abdi dalem Keprajan dan Punokawan diawali dari halaman Bangsal Ponconiti, Keben kompleks kraton. Prosesi dimulai sekitar pukul 23.00 WIB yang dihadiri pula adik Sri Sultan Hamengku Buwono X, GBPH Joyokusumo. Sebelum prosesi dimulai dilakukan pembacaan macapat atau tembang berbahasa Jawa selama lebih kurang 1,5 jam.
Semua bendera atau panji lambang lima kabupaten dan kota di DIY serta panji abdi dalem keprajan dibawa serta saat acara tersebut. Di depan barisan bendera panji diusung pula bendera negara RI, merah putih. Semua abdi dalem mengenakan busana adat Jawa peranakan warna biru tua tanpa membawa keris dan tidak beralaskan kaki. Sedang warga biasa berpakaian biasa mengikuti dibelakang rombongan.
Prosesi arak-arakan dimulai dari Keben melewati Jl Rotowijayan, Jl Kauman, Haji Agus Salim Notoprajan, Jl Wachid Hasyim, Suryowijayan, Pojok Beteng Kulon, MT Haryono/Gading, Pojok Beteng Wetan/Brigjen Katamso, Jl Ibu Ruswo dan berakhir di pagelaran Kraton di Alun Alun Utara.
Cuaca yang cerah sejak sore hingga malam hari, membuat warga Yogyakarta yang
mengikuti ritual mubeng benteng lebih banyak dibandingkan tahun sebelunya.
Rombongan membentuk barisan sepanjang 300-an meter. Saat berjalan selama lebih kurang 2,5 jam, mereka tidak bicara sepatah kata pun, meski saling mengenal.
"Tapa bisu ini mengandung maksud untuk memperingati tahun baru Islam atau lebih dikenal 1 Suro bagi masyarakat Jawa. Tujuannya mengajak masyarakat untuk bersyukur kepada Tuhan, memohon keselamatan dan kesejahetraan terutama bagi warga Yogyakarta dan negara Indonesia," kata panitia pelaksana Mubeng Beteng, KRT Projo Haryono kepada wartawan disela-sela persiapan acara di Keben Kraton.
Haryono menambahkan prosesi ini juga untuk memperteguh sikap Yogyakarta sebagai bagian NKRI. Warga Yogyakarta juga berdoa agar proses RUU Keistimewaan DIY secepatnya selesai dibahas di DPR.
"Kami juga ingin menyampaikan pesan bila jabatan gubernur dan wakil gubernur DIY saat ini melekat pada Sri Sultan Hamengku Buwono X dan Sri Paduka Paku Alam IX," pungkas Haryono. (bgs/rdf)











































