Pertemuan ini diadakan secara periodik untuk mengevaluasi pencapaian Pendidikan untuk Semua, yang merupakan salah satu program Millenium Development Goals/MDG (Sasaran Pembangunan Milenium, red) PBB.
Penyebab ketidaktercapaian karena kegagalan masyarakat internasional menghadapi masalah inequality (kesenjangan, red) secara global dan kegagalan pemerintah dalam menangani kesenjangan tersebut di dalam negerinya masing-masing. Β
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Demikian kesimpulan pada sesi pembahasan Strengthening Governance and the Commitment to Equity, Global Monitoring Report (GMR) 2009, seperti dituturkan Kuasa Usaha Ad Interim Mansyur Pangeran kepada detikcom, Senin 22/12/2008 malam waktu setempat.
Indonesia bersama Cina, India, Bangladesh, Brazil, Meksiko, Mesir, Nigeria dan Pakistan menggelar pertama kali E-9 Ministerial Review Meeting on Education for All (EFA) di New Delhi (1993). Target 2015, yang menetapkan bahwa buta aksara usia 15 tahun ke atas harus direduksi 50%, itu disepakati dalam Deklarasi Dakar (2000).
Pertemuan Tingkat Tinggi EFA ke-8 di Oslo (16-18/12/2008) tersebut dihadiri oleh 2 kepala negara/pemerintahan, yakni PM Norwegia Jens Stoltenberg dan Presiden Senegal Abdoulaye Wade.
Delegasi Indonesia dipimpin oleh Mendiknas Bambang Sudibyo dengan anggota Dirjen Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan, Dirjen Manajemen Dikdasmen, Dirjen Pendidikan Non Formal dan Informal, Ketua Harian Komite Nasional Indonesia UNESCO, Deputi WRI-UNESCO dan unsur KBRI Oslo.
Selain itu juga Ratu Jordania, 16 menteri, dan sekitar 300 delegasi lainnya dari 40 negara, organ-organ PBB terkait pendidikan (UNESCO, UNDP, UNICEF, ILO, WHO, WFP, UNGEI), Bank Dunia, organisasi internasional, swasta, serta LSM pendidikan.
(es/es)











































