US$ 250 Juta untuk Terumbu Karang di 6 Negara

US$ 250 Juta untuk Terumbu Karang di 6 Negara

- detikNews
Senin, 22 Des 2008 10:37 WIB
US$ 250 Juta untuk Terumbu Karang di 6 Negara
Jakarta - 75 persen dari 5,7 juta kilometer persegi area terumbu karang di 6 negara rusak. Dana hibah US$ 250 juta pun digelontrokan untuk memperbaiki kondisi terumbu karang melalui Coral Triangle Initiative (CTI) itu.

CTI merupakan prakarsa yang digagas Presiden SBY dari Indonesia untuk memperbaiki terumbu karang di wilayah CTI yang meliputi 6 negara yakni Indonesia, Filipina, Malaysia, Papua Nugini, Pulau Solomon dan Timor Leste.

"CTI ini berhasil memobilisasi hibah US$ 250 juta sampai saat ini," ujar Sekretaris Menko Kesra Indroyono Susilo.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hal ini disampaikan Indroyono usai pertemuan dengan para dubes peserta World Ocean Conference (WOC) 11-14 Mei 2009 di Hotel Borobudur, Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Senin (22/12/2008).

Hibah itu, imbuh dia berasal dari antara lain Amerika Serikat (AS) yang menyumbang US$ 40 juta dan negara Global Environment Facility (GEF) di bawah bank dunia.

"25 Persen terumbu karang dalam keadaan baik dan sangat baik. 75 Persen lagi jelek dan sangat jelek. Itu disebabkan perubahan iklim dan pengasaman air laut," kata Indroyono.

Upaya CTI ini akan dibahas dalam KTT CTI yang akan dilakukan pada 15 Mei 2009 di Manado, Sulawesi Utara. Sudah ada sekitar 5 dari 6 kepala negara anggota CTI yang berkomitmen untuk hadir.

Selain 5 kepala negara itu, ada 2 kepala negara partner yang diundang yaitu AS dan Australia.

"Kalau kepala negara Australia Kevin Rudd positif akan hadir. Kalau AS belum tahu karena presiden dilantik Januari, tapi dia berjanji akan mengirim yang paling senior," imbuhnya.

KTT CTI ini diadakan usai event WOC. WOC ini merupakan konferensi kelautan dunia yang bertujuan menghasilkan Manado Ocean Declaration yang akan dihadiri 121 negara.

"Fokusnya ada 2 yakni melihat peranan laut untuk mengurangi dampak perubahan iklim dan melihat dampak perubahan iklim terhadap laut," pungkas Indroyono.
(nik/iy)


Berita Terkait