"Kami masih terus melihat fluktuasi harga minyak dunia. Jika ini penurunan (harga minyak) terus berlangsung, sangat mungkin harga BBM bisa turun lagi". Demikian tepatnya bunyi kutipan pernyataan presiden.
Adalah bagian "sangat mungkin" yang memberi harapan terhadap penurunan kembali harga BBM. Memang secara ekplisit tidak ada kata "janji" yang memastikan bahwa harga BBM akan diturunkan lagi oleh pemerintah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Masalahnya, dua hari sebelumnya OPEC mengumumkan keputusannya untuk memangkas produksi minyak mentah sebesar 2,2 juta barrel per hari mulai 1 Januari 2009. Tujuannya jelas, yaitu mendongkrak naik harga minyak mentah kembali ke kisaran yang memberi keuntungan bagi para produsen.
Memang sehari setelahnya, harga minyak mentah dunia justru turun tajam menjadi USD 30 per barrel yang merupakan harga terendah dalam empat tahun terakhir. Tapi dampak dari keputusan pengurangan produksi OPEC tentu tidak akan muncul dalam waktu satu-dua hari. Bisa jadi baru mulai terasa pada pertengahan tahun atau malah awal 2010. Kapan pun itu, yang pasti akan membawa tambahan beban bagi pemerintahan baru RI hasil Pilpres 2009.
Ketika harga minyak dunia merangkak naik hingga pada titik yang tidak bisa ditoleransi lagi oleh ABPN, maka sulit pemerintah menaikkan kembali harga BBM. Ingat saja 2009-2010 nanti adalah tahun ketika dampak krisis ekonomi global mulai terasa di dalam negeri. Di kala itu yang masyarakat miskin butuhkan adalah stabilitas harga sembako, ketersediaan lapangan kerja, dan kesehatan murah, bukannya kenaikan harga BBM.
Mengingat SBY akan berlaga kembali dalam Pilpres 2009, apakah mungkin janji adanya penurunan kali ketiga harga BBM adalah demi menarik simpati masyarakat? Mungkin saja. Semua bakal capres punya hak untuk mengambil kuda-kuda sedari kini.
Jelas tidak fair menilai semua rencana aksi dan keputusan SBY adalah kampanye terselubung. Seorang presiden tetap berkewajiban terus memikirkan dan mengusahakan kesejahteraan rakyat hingga di akhir masa jabatannya.
Hanya semoga saja masalah harga BBM ini tidak malah dijadikan bahan kampanye dan isu politik bagi para kontestan pilpres dan parpol pendukungnya. Jika tiba masanya harga BBM terpaksa kembali naik kelak, SBY (andai dia memenangkan Pilpres 2009) tidak menghindar dengan kilah tidak pernah mengeluarkan janji harga BBM akan turun.
Andai bukan SBY yang terpilih, semoga saja presiden baru RI tersebut berani mengambil tanggung jawab. Tidak malahan menyelamatkan muka dengan melempar kesalahan pada pemerintahan sebelumnya yang menempatkannya dalam posisi sulit karena telah tiga kali turunkan harga BBM. (lh/sho)











































