"Pola teroris generasi keempat bisa mengenai siapa saja, tidak hanya aparat tapi juga masyarakat biasa," ujar pengamat intelejen Wawan Purwanto saat dihubungi detikcom, Minggu (21/12/2008).
Menurut Wawan, model serangan teroris generasi pertama lebih mengarah pada aparat dan bersifat sporadis. Masyarakat sipil relatif tidak mengalami kerugian secara langsung. Generasi kedua, serangan mereka lebih terorganisir, namun masih terukur.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini jauh lebih berbahaya dari sebelumnya, karena kalau aparat keamanan kan lebih siaga, lebih siap menerima serangan. Kalau menyerang masyarakat umum akan menciptakan rasa panik dan kehilangan percaya diri. Mereka jadi paranoid sebab serangan bisa terjadi kapan saja di mana saja. Ketika kita lagi santai-santai tiba-tiba diserang," lanjut Wawan.
Terorisme generasi ini juga lebih nyeleb alias suka di-blow up media. Sebab aksi-aksi mereka ditujukan untuk menyampaikan pesan-pesan tertentu. Dengan bantuan media massa, pesan mereka akan sampai ke tujuan.
Karena targetnya masyarakat sipil, maka menurut Wawan latihan antiteror semestinya perlu melibatkan masyarakat. "Kalau latihan yang tertutup memang ada, karena ada latihan khusus yang tidak terbuka untuk umum. Ada saatnya nanti ada latihan terbuka supaya masyarakat aware dengan kondisi terkini," ucap Wawan.
(sho/sho)










































