"Ibu (NH Dini) bilang, tolong dong saya perlu dana. Saya mau jual lukisan. Nah kemudian saya sebarkan melalui email," kata orang dekat NH Dini, Ariany Isnamurti, kepada detikcom, Jumat (19/12/2008).
Meski dikabarkan menderita sakit Hepatitis-B sejak delapan tahun terakhir ini, menurut Ariany, kondisi perempuan bernama lengkap Nurhayati Sri Hardini Siti Nukatin itu dalam keadaan baik. Hanya saja, dia memerlukan pengobatan rutin. Dan penulis 'Pada Sebuah Kapal' tersebut sangat berdisiplin dalam hal ini.
"Dia nggak punya penghasilan. Tapi dia disiplin untuk minum obat. Kalau nggak punya duit terus gimana?" kata Ariany.
Kesepuluh lukisan bergaya dekoratif Cina milik NH Dini itu setiap lukisannya dijual antara Rp 3-7 juta. Hingga kini sudah satu lukisan yang terjual.
Lukisan-lukisan tersebut berada bersama NH Dini, yang kini tinggal di rumah lansia Wisma Langen Werdhasih, Ungaran, Jawa Tengah (Jateng). Sudah dua tahun NH Dini hidup sendirian di kota yang dekat dengan Semarang, tempat kelahirannya. Dua anaknya tinggal di luar negeri.
Sebelumnya, NH Dini sempat menetap di kompleks Graha Wredha Mulya, Sinduadi, Sleman atas bantuan istri Sultan Hamengku Buwono X, Kanjeng Ratu Hemas.
Menurut Ariany, meski sudah tua dan kesehatannya menurun, NH Dini tetap aktif menulis dan mengikuti kegiatan-kegiatan sastra, terutama di Jakarta. Buku terakhir NH Dini yang terbit berjudul "Argenteuil, Hidup Memisahkan Diri".
"Kalau ke Jakarta dia suka mampir ke TIM (Taman Ismail Mardzuki)," ucap Ariany yang bekerja di Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin ini.
NH Dini tercatat telah melahirkan puluhan karya sastra baik berupa novel, kumpulan cerpen, maupun cerita kenangan. Beberapa karya NH Dini yang terkenal antara lain Pada Sebuah Kapal (1972), La Barka (1975) atau Namaku Hiroko (1977), Orang-orang Tran (1983), Pertemuan Dua Hati (1986), dan Hati yang Damai (1998).
(irw/iy)











































