Demikian disampaikan menajemen RS Thamrin Internasional Salemba dalam rilis yang diterima redaksi detikcom sore ini, Selasa (16/12/2008). Rilis yang dikirim melalui fax itu ditandatangani Direktur Utama RS MH Thamrin Internasional Salemba, Dr.Yanuar Sjaff Maarifat, MPH, MM.
Bantahan dan permintaan maaf orang tua Rising tersebut tercantum dalam rilis itu pada alenia terakhir. Bunyi lengkapnya adalah sebagai berikut:
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di bagian awal, pihak menajemen memaparkan kronologi perawatan terhadap Rising yang terlahir tanpa lubang anus. Pasien adalah kiriman RS Tugu Ibu, Depok, ketika berusia 3 hari (6 November 2008) dan sebelum diterima di UDG RS MH Thamrin telah ditolak oleh RSCM, RSPAD dan RS Sint Carolous dengan alasan ruang rawat inap bayi sudah penuh.
Melihat kondisi bayi yang tampak kritis, segera dilakukan operasi cito untuk live saving setelah perawatan penunjang untuk menstabilkan kondisi pasien. Kesanggupan orangtua pasien yang hanya bisa memberi uang jaminan sebesar Rp 600 ribu dari Rp 12 juta yang ditentukan, tidak dipersoalkan kala itu.
Total biaya perawatan membengkak hingga Rp 60 juta, sebelum operasi pembuatan lubang anus Rising mendapat perawatan intensif di NICU yang tergolong mahal. Belum lagi selama terdapat kesulitan penyembuhan pasca operasi.
Tapi setelah melalui upaya pemulihan selama 33 hari, kondisi kritis pasca operasi berat pembuatan lubang anus berhasil dilalui. Padahal dalam perawatan selanjutnya orangtua pasien beberapa kali tidak membeli obat yang diresepkan oleh dokter.
(lh/asy)











































