"Pemerintah tidak punya hati nurani, sejak solar naik menjadi Rp 4.500 tahun 2005 para nelayan kolap, apalagi dengan harga Rp 5.500. Pemerintah tidak care dengan nasib nelayan yang miskin," kata Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat HNSI, Yussuf Solichien Martadiningrat dalam jumpa pers di kantornya Gedung Cawang Kencana, Cawang, Jakarta, Senin (15/12/2008).
Menurut Yussuf, sebelum pemerintah mengumumkan penurunan BBM Solar dari Rp 5.500 menjadi Rp 4.800 per liter tadi malam. Pihaknya sudah tiga kali mengajukan surat permintan subsidi khusus solar bagi nelayan kepada Presiden SBY.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Yussuf mengatakan, Indonesia sebagai negara kepulauan dengan lautan yang sangat luas serta hampir 20 sampai 30 juta penduduknya tinggal di pesisir pantai.
"Ini yang tidak disadari pemerintah. Konsep pembangunan lebih diutamakan kepada darat dan persawahan, para petani disubsidi. Tapi sejak negeri ini berdiri, nelayan belum pernah mendapatkan subsidi dari pemerintah," sesal Yussuf yang pensiunan TNI dengan pangkat Mayor Jenderal TNI Marinir (Purn) ini.
Oleh sebab itu, Yussuf memohon kepada Presiden SBY dan Komisi VII DPR agar tidak diskriminatif. "Petani dan nelayan sama-sama miskin, tapi kenapa subsidi kepada petani saja," tegasnya lagi.
Diterangkan Yussuf, pihaknya meminta subsidi khusus solar kepada nelayan dengan harga Rp 2.500 per liter. Alasannya, hampir 50 persen hingga 70 persen biaya operasi melaut bagi nelayan habis untuk BBM.
"Kalau turun cuma Rp 4.800 per liter, ini tidak akan membantu apa-apa, tidak akan mampu membangkitkan keterpurukan nelayan Indonesia," tandasnya.
HNSI, lanjut Yussuf, berasumsi dengan harga solar subsidi khusus Rp 2.000 per liter justru dapat menghidupi nelayan dan keluarganya. Karena dengan kenaikan sebelumnya kehidupan nelayan nyaris memperihatinkan, bahkan banyak pencarian nafkah berhenti alias mati total.
Ditambahkan Yussuf, jumlah kapal ikan Indonesia ada 562.720 unit, terdiri dari 244.190 unit kapal tanpa motor, 165.430 unit kapal motor tempel, 146.330 unit kapal motor, 5.030 unit kapal di atas 30 GT dan 1.740 unit kapal di atas 100 GT.
"Bila dihitung jumlah kapal ikan yang ada ini (bermotor) sekitar 316.790 unit, maka subsidi solar untuk nelayan tidak lebih Rp 10 triliun. Bandingkan dengan subsidi bagi petani yang mencapai Rp 30 triliun," jelasnya lagi. (zal/rdf)











































