Tiga Hari yang Bikin SBY Menangis, Marah dan Tertawa

Tiga Hari yang Bikin SBY Menangis, Marah dan Tertawa

- detikNews
Senin, 15 Des 2008 10:42 WIB
Tiga Hari yang Bikin SBY Menangis, Marah dan Tertawa
Jakarta - Jika ada sebuah film tanah air yang berjudul 'Tiga Hari untuk Selamanya', maka ada tiga hari yang membuat orang nomor satu di republik ini bisa menangis, marah dan tertawa. Dalam tiga hari terakhir, Presiden SBY dibuat menangis, marah dan tertawa oleh peristiwa yang dia buat sendiri dan takdir dari Tuhan. Kok?

Pada malam Jumat 11 Desember lalu, SBY tak bisa membendung air matanya saat melayat di kediaman almarhum mantan Menteri Luar Negeri Ali Alatas. Demikian juga Ibu Ani Yudhoyono, butiran air mata terus membasahi pipi ibu negara.

Karena sedang menangis, sebelum jumpa pers untuk mengucapkan rasa bela sungkawa atas wafatnya Ali Alatas, SBY sempat memalingkan mukanya dari pers, dan meminta sapu tangan kepada sang istri untuk menyeka hidungnya yang sembab.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lantas, SBY pun dengan suara datar menceritakan jasa-jasa Ali Alatas semasa hidup. Bagi SBY, Ali alatas adalah sosok ing ngarso sung tulodho, alias orang yang selalu memberi contoh yang baik saat menjadi pemimpin.

Besoknya, tepatnya Jumat 12 Desember usai memimpin upacara pemakaman Ali Alatas, rasa sedih SBY berubah sekian derajat. SBY berubah jadi marah lantaran rapat terbatas yang dia lakukan dengan para menteri terganggu dengan suara berisik speaker puluhan demonstran di depan istana yang menolak usia hakim agung hingga 70 tahun.

"Kita mulai rapat ada unjuk rasa, kita tidak bisa bekerja. Apakah loud speaker itu dibenarkan," ujar SBY dengan nada tinggi kepada Kapolri.

Buntutnya, Kapolri pun akan melarang para demonstran berdemo dengan menggunakan pengeras suara yang berlebihan.

Kepada detikcom, mantan aktivis 98 yang pernah dipenjara oleh Soeharto, Fadjroel Rahman mengkritik kemarahan SBY kepada pendemo. menurut Fadjroel, SBY belum pernah berdemo menentang dan menjatuhkan Soeharto untuk memperjuangkan reformasi.

"Bukan suara speaker yang mesti diperhatikan, tetapi substansi tuntutan pendemo. Speker itu cuma alat demo. SBY mesti mendengar tuntutan rakyat. Bukan mendengar riuh speaker," ujar Fadjroel dalam pesan singkatnya kepada detikcom, Senin (15/12/2008).

Sebagai mantan aktivis, Fadjroel menganggap aneh jika dalam demo dilarang menggunakan pengeras suara. Jika itu terjadi, menurutnya pemerintah telah menciderai demokrasi. "Demo tanpa speaker, namanya tahlilan kematian demokrasi," imbuhnya.

Kondisi berubah kembali 180 derajat saat SBY mengumumkan penurunan harga premium dan solar Minggu 14 Desember kemarin. Diawali dengan pernyataan pers yang serius, SBY pun mulai mengabarkan informasi dan kebijakan yang tentunya sangat populis itu.

"Kebijakan ini berlaku pada pukul 00.00 WIB," ujar SBY mantap.

Usai mengumumkan penurunan harga BBM, SBY melemparkan candaan segar kepada wartawan. "Demikian jumpa pers ini, dan bagi yang libur silakan menikmati liburannya," ujar SBY sambil senyum mengembang.

Para wartawan yang sadar bahwa hari itu tidak libur pun tertawa lebar, diikuti SBY, Wapres Jusuf Kalla dan sekitar 11 menteri yang hadir.

Hari Minggu kemarin pun rasanya memang spesial. Sebab, jumpa pers yang biasanya berlangsung di tempat yang telah disediakan, kemarin berlangsung di tempat SBY biasa memimpin rapat di ruangan pribadinya.

Posisi SBY, JK dan para menteri pun tetap tidak berubah. Tetap membentuk setengah lingkaran layaknya orang sidang/ rapat. Rapat di hari Minggu, dan menghasilkan putusan yang sangat populis, terutama di detik-detik menjelang pemilu. (anw/asy)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads