Penurunan Tarif Angkutan Umum Masih Alot

Penurunan Tarif Angkutan Umum Masih Alot

- detikNews
Senin, 15 Des 2008 10:37 WIB
Penurunan Tarif Angkutan Umum Masih Alot
Jakarta - Harga BBM telah turun, namun dampaknya terhadap ongkos transportasi belum bisa dirasakan masyarakat.

Organisasi Pengusaha Angkutan Darat (Organda) masih belum memutuskan sikapnya apakah akan menurunkan tarif angkutan atau tidak.

Padahal sebelumnya, Menteri Perhubungan (Menhub) Jusman Syafii Djamal mengatakan Organda akan menurunkan tarif angkutan kalau harga solar turun. Tapi tampaknya penurunan tarif angkutan tampaknya masih alot. Β 

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kaji ulang semua secara benar. Jangan tarif dipolitisir," pinta Ketua Departemen Angkutan dan Prasarana Organda Rudy Thehamihardja ketika dihubungi detikcom, Minggu (14/12/2008).

Rudy meminta, tidak hanya Organda yang diajak duduk bersama kalau membahas penurunan tarif angkutan. Namun semua stake holder yang berususan dengan industri angkutan darat, seperti produsen suku cadang, karoseri dan para agen tunggal pemegang merek (ATPM).

"Yang lain belum pada turun. Harga kendaraan naik, suku cadang naik semua. Suku cadang kan ikut kurs dollar," kata dia.

Rudi pun mengajukan simulasi dan mengatakan sebenarnya tarif angkutan bisa turun. Untuk bus antarkota antarprovinsi (AKAP) sudah tidak berhak meminta penurunan tarif karena tarif batas atas dan batas bawahnya adalah pengusaha yang menentukan.

Kalau bus kota dengan penumpang 79 orang dan 12 rit, atau hampir mengangkut seribu orang per hari, turunnya 'cuma' bisa Rp 60. Sedangkan Metromini dengan jumlah penumpang 30 dan 14 rit, ada 500 penumpang yang bisa diangkut per hari. Tarif cuma bisa turun Rp 65.

Sementara angkutan kota (angkot) jumlah penumpang 8 orang dengan 16 rit mengangkut sekitar 130 orang per hari, tarif angkot bisa turun Rp 156.

"Itu dengan asumsi kalau yang lain nggak naik. Sejak Mei 2008 suku cadang sudah 2 kali naik. Dan tahun depan Januari atau Februari, semua pajak retribusi kendaraan bermotor naik. UMR harus naik, 15 hari turun nggak bisa naik lagi," keluhnya. (nwk/ir)


Berita Terkait