Pembicaraan secara baik-baik pun sudah dilakukan oleh Paulina dengan suami sahnya itu. Namun justru upaya yang ia lakukan malah mengancam nyawanya sendiri. Berikut petikan wawancara detikcom dengan Paulina, Jumat (12/12/2008).
Sudah membicarakan masalah penelantaran Ibu dengan Pak Muqowam?
Bulan Oktober saya berupaya menemui Muqowam yang notabene masih suami saya di Wisma Nusantara untuk bicara dan minta penjelasan. Kenapa saya nggak dihubungi, sakit nggak dijenguk. Akhirnya kita ngobrol di Hotel Nikko. Setelah itu, seminggu kemudian putus komunikasi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sejak kapan sudah tidak ada komunikasi lagi dengan Pak Muqowam?
Sejak Oktober. Sesudah pertemuan di Wisma itulah. Setelah itu saya jadi malas datang ke kantor. Saya coba hubungi Pak Rendy melalui HP. Saya minta tolong agar Pak Rendy yang waktu itu masih di Makassar bisa memberikan HP itu ke dia untuk bicara. Tetapi dia malah marah dan menepis tangan Pak Rendy. Pak Rendy jadi malu di depan orang banyak dikira ada pertengkaran.
Saya sudah berupaya semaksimal mungkin untuk berkomunikasi. Pagi ini dia hubungi saya ke kantor. Tetapi saya suruh staf saya telepon saya ke HP supaya muncul nomornya.
Bicara apa saja di telepon tadi pagi?
Saya bilang, lelaki biadap ada perlu apa lagi? Dia mau ngajak ketemuan. Saya mau ngurus anak saya. Kalau ada waktu saja baru saya bisa ketemu. Dia bilang mengenai pertemuannya nanti dia yang ngatur tempatnya. Saya bilang itu bukan hak kamu mengatur.
Saya sudah nggak mau lagi. Karena waktu di Wisma saya mau dibunuh. Ada segerombolan pria mengepung mobil saya. Orang-orang itu wajahnya mirip orang Indonesia timur. Untung saya nggak sendiri. Kalau sendiri, mungkin saya sudah dipotong-potong dan dimutilasi.
Memang hari ini saya sibuk karena ada acara anak saya. Saya berpikir sudah terlambat dia seperti itu. (gus/iy)











































