"Orang Betawi yang maju. Orang Petamburan (Jakarta Pusat), tapi bergaulnya di level dunia. Termasuk orang langka dan dia tidak lupa dengan akarnya," ungkapnya saat melayat di rumah duka Jl Benda No 19, Jakarta Selatan (Jaksel), Kamis (11/12/2008).
Bang Foke, begitu sapaan akrabnya, mengakui banyak belajar dari almarhum mengenai tata cara berdiplomasi dan bergaul. Dalam benaknya Ali Alatas adalah orang yang banyak dibutuhkan oleh negara.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Foke mengatakan sangat kehilangan orang yang bisa diandalkan, apalagi untuk orang Betawi. "So far belum ada orang Betawi yang bisa seperti beliau," tegasnya.
Ali Alatas lahir di Jakarta pada 4 November 1932. Dia merupakan sarjana hukum dari Universitas Indonesia dan mengantongi ijazah dari Akademi Dinas Luar Negeri pada 1956. Sebelum berdinas sebagai diplomat, Ali Alatas pernah menjadi korektor di sebuah koran dan redaktur di kantor berita.
Puncak kariernya adalah sebagai menteri luar negeri pada zaman Soeharto pada
1987-1999. Di masa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Ali Alatas adalah Ketua Dewan Pertimbangan Presiden (Watimpres). (irw/irw)











































