Ketua DPP Partai Demokrat Anas Urbaningrum mengatakan, aspirasi rakyat untuk munculnya pemimpin muda belum tentu berkaitan dengan tingkat keterpilihan (elektibilitas) para tokoh muda. Sebab saat ini pasar atau masyarakat lah yang menentukan siapa yang akan menjadi pemimpin, dan itu sangat dipengaruhi oleh popularitas yang bersangkutan.
"Terkait dengan angka-angka itu, belum tentu terkait dengan elektabilitas. Masyarakat menginginkan anak muda untuk maju jadi capres atau cawapres, tapi belum tentu untuk dipilih. Dalam arti hanya untuk menyegarkan saja," ujar Anas dalam diskusi hasil survei IRDI tentang pemimpin masa depan Indonesia di Hotel Nikko, Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, Kamis (11/12/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pemimpin-pemimpin muda yang pernah memimpin di dunia cenderung menjadi diktator karena ada keinginan untuk memperlama masa berkuasanya," ujar Sayuti.
Merujuk pada Amerika Serikat (AS), Sayuti mengatakan isu pemimpin muda tidak lah menarik. Hal itu dikarenakan bisa saja orang muda punya pikiran lamban dan tidak progresif. "Di kampanye Obama, saya tidak menemukan satu kalipun Obama mengatakan saya tokoh muda atau tokoh tua," ucapnya.
Dalam survei IRDI terungkap 54,98 persen responden menghendaki tampilnya pemimpin muda, 20 persen mengaku tidak meghendaki, dan 25,15 mengaku tidak tahu atau tidak mejawab.
Survei dilakukan 6-13 Oktober 2008 dengan jumlah responden 2.000 orang yang tersebar secara proporsional di 33 provinsi dan 200 desa atau kelurahan. Responden adalah penduduk Indonesia berumur minimal 17 tahun atau sudah menikah. Dengan sampling error 2,19 persen, tingkat kepercayaan dari survei ini adalah 95 persen.
(sho/iy)











































