"Kita sekarang lagi tidur-tiduran di luar Istiqlal. Tidak dapat izin masuk lagi," keluhnya saat
dihubungi detikcom, Rabu (10/12/2008), pukul 21.45 WIB.
Ibu An mengaku kedatangannya ke Jakarta yang disponsori sebuah LSM itu serba tidak jelas. Saat tiba pukul 09.00 WIB hari ini, mereka hanya diajak berputar-putar tanpa arahan yang jelas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kedatangan warga dari 4 desa, yakni Desa Siring Barat, Desa Glagah Harum, Permisan, Gempolsari, ternyata dijanjikan oleh sebuah LSM dapat berjumpa dengan Wapres Jusuf Kalla. Mereka minta ganti rugi karena wilayah yang ditinggali mereka sudah tidak layak huni meskipun tidak secara langsung terendam Lumpur Lapindo.
"Mereka (LSM) bilang membantu menghadap Jusuf Kalla supaya kita ditanggapi. Kita mengajukan ganti rugi, masuk peta terdampak. Desa kita terlalu banyak gas beracun, tanah ambles," ceritanya.
Namun janji LSM itu sepertinya hanya isapan jempol belaka. Mereka tidak dalam koordinasi yang jelas. Padahal LSM itu sudah berjanji akan menanggung kebutuhan mereka semuanya di Jakarta.
"Katanya semua ditanggung oleh LSM. Namanya Romo Cendekia kayaknya," ujar An.
Nasib mereka di Jakarta kini tidak menentu. Namun Ibu An mengatakan warga 3 desa lainnya sudah dibawa ke YLBHI untuk menginap. Tinggal warga dari desanya saja yang masih berada di depan Istiqlal.
"Koordinatornya nggak tahu ke mana," katanya.
(gah/mok)










































