Namun dari penelusuran detikcom, Rabu (10/12/2008), warisan yang antara lain berupa showroom, rumah, super market dan uang itu diduga fiktif. Dugaan ini karena tidak ada bukti kuat mengenai hibah warisan ini.
Keberadaan Muhammad Ismail Jailani yang dikabarkan meninggal dunia 26 November 2008 lalu juga misterius. Tidak jelas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau nama ponpesnya ada, tapi pengasuhnya bukan itu (Muhammad Ismail Jailani)," kata Muhyidin kepada detikcom.
Pernyataan Muhyidin itu agak berbeda dengan Ketua NU Kecamatan Wuluhan KH Ahmad Dhawam. Menurutnya, nama Ponpes Al Ikhsan memang ada di Desa Jatimulyo, Kecamatan Ambulu. Namun ponpes itu sudah tidak beroperasi lagi.
"Dulu pengasuhnya memang namanya Kiai Jailani, tapi itu sudah tidak ada santrinya lagi," kata Ahmad Dhawam. Lagi pula, kata Dhawam, Jailani masih hidup hingga sekarang. Keluarganya pun tidak kaya raya.
Dari penelusuran itu, patut diduga warisan miliaran itu hanya fiktif. Salah satu kerabat Siti, sebut saja Lisa juga tidak tahu persis di mana alamat sang kiai.
Lisa dan keluarga besarnya memang telah melihat surat kuasa pelimpahan harta yang ditandatangani Kiai Muhammad Ismail Jailani. Surat itu bermaterai dan ada notarisnya.
Namun Lisa juga tidak bisa memastikan dari mana sebenarnya surat itu berasal. "Kalau dari keterangan Siti, surat itu dari kiai itu. Dia kan sudah datang sendiri ke sana," kata Lisa.
Satu-satunya yang membuat keluarga yakin adalah uang Rp 15 juta yang diperoleh Siti saat kembali dari Jember. "Uang itu dibelikan motor baru," katanya.
Lisa mengatakan, Siti tak mungkin bisa mendapat uang sebanyak itu jika tidak diberi orang lain. Selama ini, kehidupan Siti bisa dibilang tidak mampu. "Suaminya hanya kerja serabutan," kata Lisa.
(ken/asy)











































