"Tempat kita jauh mas, sekitar 3 kiloan. Berarti kalau pulang pergi kan 6 kilo meter setiap kita melempar. Jadi banyak temen-teman yang kelelahan, tertinggal atau tersesat karena tidak tahu jalan keluar dari areal jamarat," kata jamaah haji asal Bandung, Handoyo, pada detikcom di sela-sela mabit di Mina, Selasa (9/12/2008).
Menurut Handoyo, panitia harus lebih banyak menempatkan para petugas dengan atribut khusus yang mudah dikenali jamaah di tempat-tempat strategis di jalan menuju jamarat serta kawasan jamarat. Hal ini diharapkan dapat mengurangi jamaah yang tercecer dan tersesat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal yang sama juga disampaikan jamaah haji asal Surabaya, Faiz. Menurut dia, jauh nya lokasi tenda-tenda jamaah dengan areal jamarat harus dibarengi dengan pelayanan kesehatan dan petugas penunjuk arah yang banyak. Penyebaran petugas kesehatan dan penunjuk arah ini sangat diperlukan guna mengantisipasi banyaknya jamaah haji Indonesia yang berumur tua yang mengalami kelelahan dan tidak kuat melanjutkan perjalanan.
"Saya kira, petugas pelayanan umum dan kesehatan di lapangan harus ditambah. Sekarang masih terlalu sedikit yang saya lihat. Untuk petugas kesehatannya saya lihat lebih banyak berada di pos pelayanan di tenda-tenda. Kalau mereka yang bertugas itu disebar, itu lebih baik, karena bisa langsung mengatasi masalah kesehatan jamaah yang kelelahan dan tak kuat lagi," pinta dia.
Keluhan jamaah lainnya terkait pemondokan di Mina adalah terbatasnya kamar mandi dan tempat wudlu. Akibatnya setiap menjelang salat, antrean panjang selalu menjadi pemandangan di tenda-tenda Mina.
"Secara umum pelayanan di Mina lumayan baik. Makan tidak kurang, meski sedikit antre, tetapi kamar mandinya dan tempat wudlu masih kurang mas. Itu yang harus diupayakan penambahan untuk tahun-tahun depan," ujar Yani, jamaah haji Indonesia asal Lumajang, Jawa Timur.
Menaggapi semua keluhan itu, Menteri Agama Maftuh Basyuni yang meninjau pelayanan kesehatan di Mina mengatakan semua hal yang terkait dengan Armina itu wewenang muassasah. Karena itu, untuk tahun depan Indonesia akan mengupayakan lebih keras agar masalah-masalah dan keluhan-keluhan itu tidak terjadi lagi.
"Kalau soal kamar mandi, tenda-tenda di Mina, itu kewenagnan dari muasassah. Untuk masalah petugas, kami akan melibatkan TNI, Polri dan Pramuka. Kalau selama ini kita sudah memakainya, tahun depan TNI, polri ini nanti akan kita dorong menjadi ketua-ketua sektor," kata Maftuh.
Sementara itu, anggota tim pengawas haji DPR Ichwan Syam menilai banyaknya orang tercecer tersebut akibat kurangnya petugas di lapanagan dan tidak adanya sweeping. Karena itu, sisa waktu yang ada harus di maksimalkan untuk mengirimkan para petugas ke tempat-tempet strategis dan melakukan sweeping.
"Ini akibat para petugas yang ada hanya sedikit di pos-pos yang strategis. Sehingga kalau jamaah tersesat dan tercecer, susah bertanya. Ini harus segera diatasi," pinta Sekjen MUI ini.
(yid/asy)










































