"Aneh, masak merampok di ring 1 tapi yang diambil hanya mobil Avanza. Itukan sangat sepele. Pasti penjahat hanya menguji tingkat keamanan kawasan yang dianggap paling aman guna melakukan kejahatan yang lebih besar lagi," kata ahli psikologi forensik, Reza Indragiri Amriel saat berbincang-bincang dengan detikcom, Selasa,(9/12/2008).
Lebih lanjut Reza mengatakan, dalam melakukan aksinya, penjahat mempertimbangkan 4 unsur yaitu target, intensif, perlengkapan, dan resiko.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dilihat dari perlengkapan kejahatannya, lanjut Reza, perampok menggunakan alat-alat yang lengkap yaitu dari pistol hingga senjata laras panjang. Dan dilihat dari resikonya terbilang cukup tinggi, karena salah satunya berada di kawasan komplek Patrajasa, Kuningan yakni rumah mantan Menteri Kesehatan Farid A Moeloek.
"Dengan modal kejahatan yang lengkap, perampok bisa menggasak lebih banyak, tidak hanya mobil," ujar dosen Universitas Bina Nusantara (Binus) ini.
Meski hanya test case, tapi Reza tidak berani menebak tujuan utama kejahatan perampok tersebut. Reza hanya memberi sinyalemen, kejahatan besar di Indonesia umumnya terjadi di sepertiga ujung tahun seperti aksi pengeboman teroris.
"Yang pasti, penjahat ini terorganisir. Tapi ikut dalam konspirasinya siapa, itu bukan bidang saya untuk menganalisa," pungkasnya.
Sabtu 6 Desember 2008, rumah mantan Menkes Farid A Moeloek dirampok dan 1 mobil Toyota Avanza silver bernopol B 1874 EQ raib.
Kamis 4 Desember 2008 sore, rumah Direktur Utama PT Sarana Prima Cipta Semangat (SPCS), Hanis Tirta Djadja di Jl Kelapa Puyuh II, Kelapa Gading Timur, Jakarta Utara juga dibobol maling. Rp 900 juta raib.
Sebelumnya Senin 27 Oktober, rumah Ketua Fraksi Partai Golkar DPR RI Priyo Budi Santoso di perumahan elit Tanjung Mas Raya, Jalan Cenderawasih IV A6/5, Tanjung Barat, Jagakarsa, Jakarta Selatan disatroni 8 perampok bersenjata api. (asp/gus)











































