Melihat Masjid & Gereja di Perut Pegunungan Jayawijaya

Melihat Masjid & Gereja di Perut Pegunungan Jayawijaya

- detikNews
Senin, 08 Des 2008 07:41 WIB
Melihat Masjid & Gereja di Perut Pegunungan Jayawijaya
Tembagapura - Ibadah adalah kebutuhan bagi manusia. Buktinya di kedalaman vertikal 2.800 meter dari puncak gunung di pegunungan Jayawijaya berdiri masjid dan gereja. Atau secara horozintal letaknya sejauh 2 Km dari pintu terluar.

Bersama rombongan Departemen Luar Negeri, sejumlah wartawan pada Sabtu 6 Desember 2008, berkesempatan mengunjungi Masjid Ashabul Kahfi dan Gereja Oikumene.

"Masjid digunakan untuk salat Jumat dan salat lima waktu, kalau gereja untuk ibadah di hari Minggu," kata Manajer Produksi Tambang Bawah Tanah PT Freeport, Joko Basyuni.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Gereja dibangun lebih dahulu pada 1989. Untuk pendeta, tiap hari minggu didatangkan dari Kota Tembagapura. "Di sini bisa menampung sekitar 200 jemaat," jelas Joko.

Ada kejadian yang cukup unik, yakni saat seorang pekerja hendak menikah. Dia ingin melaksanakan pemberkatan pernikahan dilakukan di gereja itu.

"Tapi kita tidak perbolehkan, ini hanya untuk yang berkaitan dengan aktivitas kerja. Dan kemudian kita sarankan agar dilakukan di Tembagapura," jelas Joko.

Gereja ini memang cukup unik, atapnya karena terletak di perut gunung praktis berasal dari bebatuan. Demikian pula dinding dan lantainya. Untuk penerangan, lampu-lampu menggunakan kabel tampak bergelantungan menempel di atap.

Di dalam ruangan berjejer kursi-kursi dalam barisan yang rapi. Dan sebuah mimbar tepat terletak di depan di bagian tengah. Di ruangan berukuran 10x5 meter ini, udara segar mengalir menyegarkan paru-paru.

Pihak perusahaan tambang, memang membuat sistem ventilasi udara yang memungkinkan pasokan oksigen bisa mengalir deras.

Sementara masjid yang terletak tidak jauh dari gereja juga demikian. Ashabul Kahfi namanya. "Ini sesuai kisah pemuda yang di gua," ujar Joko.

Dibuat pada tahun 2000, seiring dengan bertambahnya pekerja yang beragama Islam, masjid ini biasa digunakan untuk salat lima waktu. Bagaimana untuk air wudhu?

"Kami mengalirkan air dari pegunungan," imbuh Joko.

Saat rombongan melihat masjid, tampak beberapa pekerja tengah mengambil wudhu. "Bila ramadhan kadang juga digunakan untuk salat tarawih," tutup Joko. (ndr/lrn)


Berita Terkait