Alasan utama, warga biasa membuang ludah saat mengunyah pinang ini. Dan tentunya warna merah yang ditimbulkan, sebagai percampuran dengan sirih dan kapur menyebabkan kebersihan lantai terganggu.
Contoh kecilnya saja di Kota Jayapura. Banyak ditemukan sisa-sisa ludah yang dibuang setelah makan pinang. Memang bagaimana rasanya buah pinang ini? "Segar agak panas-panas," tutur Andri, pendatang asal Manado yang telah tinggal 15 tahun di Papua.
Tidak seperti warga Papua, yang biasa mengkonsumsi hingga terlihat warna merah di bibir dan gigi mereka, Andri hanya sesekali saja mengkonsumsi. "Ini bagus untuk gusi," tambahnya.
Sedang bagi warga Papua asli, mengunyah pinang ini tentu lain rasanya. "Enak," tutur Aringgus.
Pinang ini umumnya dikonsumsi penduduk Papua sejak remaja. Mungkin bisa dikatakan sebagai pengganti rokok. Harga jualnya juga cukup murah. Di pasar tradisional, setumpuk pinang bisa diperoleh seharga Rp 5 ribu.
Mau mencoba? (ndr/asy)











































