Bicara soal sate, pasti bicara juga soal arang. Membakar sate tidak dengan arang tidak afdhol rasanya.
Nah, menjelang Idul Adha banyak orang mengais rezeki dengan berjualan arang dadakan. Maklum saja, arang menjadi buruan utama penikmat kuliner yang hendak membakar sate kambingnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam seharinya, sebagai pemain besar, Marandi mengaku bisa menjual 1 ton tiap harinya. Maklum saja, memiliki kios di Jalan Manggarai Utara II, Marandi sudah memiliki langganan tetap dari restoran-restoran yang berada di Jakarta.
"Sekilo Rp 4.500 kalau partai besar kita bisa kasih murah. Omzetnya kira-kira Rp 2 juta sehari," jelas Marandi saat bicara soal bisnisnya.
Marandi menjelaskan, arang batok lebih dicari karena lebih cepat panas dan sisa abu bekas pembakaran yang dihasilkannya relatif lebih sedikit daripada arang kayu. Arang-arang tersebut 'diimpornya' dari luar Jakarta.
"Saya datangin dari Lampung, Depok sama Bekasi. Yang paling sering sih dari Depok," katanya.
Sudah berbisnis arang selama 3 tahun tidak membuat Marandi khawatir terhadap munculnya penjual arang dadakan. Dia yakin, setelah Idul Adha selesai para pembeli akan kembali ke kiosnya lagi.
"Kalau udah sepi mereka paling ke sini lagi. Soalnya kan sini sudah terkenal. Arang Manggarai," ujarnya setengah berpromosi.
Marandi menjalankan bisnisnya dengan bantuan 2 orang saudaranya. Sehari-hari dia berjualan arang di kiosnya yang dindingnya penuh dengan jelaga hitam bekas komoditi jualannya itu.
(gah/asy)











































