Baliho tersebut milik Kementrian Negara Pemberdayaan Perempuan. Dengan slogan "Perempuan Indonesia Bangkit Untuk Maju", baliho itu memperlihatkan kiprah perempuan Indonesia dalam berbangsa. Nampak juga foto Presiden SBY dan Wapres Jusuf Kalla serta Menteri Mutia Hatta.
Kehkawatiran terhadap baliho yang dipasang di bekas big screen tidak berlebihan. Pertama, baliho yang berada di sebelah timur bundaran tersebut tidak di beri lobang - lobang kecil untuk angin lewat. Sehingga, angin HI yang terkenal kencang dengan mudahnya membawa kabur baliho ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tidak hanya itu, tiang besi yang menancap ke tanah nyaris tidak ada. Tiang baliho hanya di topang oleh tiang besi yang sama hingga membentuk latter L di bawah.
Kekhawatiran semakin menjadi ketika baliho tersebut hanya ditarik seadanya menggunakan 4 kawat besi kecil guna menghindari hempasan angin. Kawat-kawat inipun hanya dikaitkan ke bekas besi pondasi trotoar.
Apalagi, pekan kemarin dua billboard pun tumbang di depan Cilandak Town Squere dan depan RS Fatmawati. Pada saat yang sama, atap RS Fatmawati terhempas mengenai sedikitnya 30 mobil yang terparkir. Empat hari berselang, atap gedung ganset kantor pusat Pertamina terbang menimpa 5 mobil.
Pemerintah mungkin tidak berkaca pada baliho serupa di bundaran HI yang juga tumbang tertiup angin awal tahun ini. Lebih-lebih, jika dibandingkan dengan yang dulu, konstruksi baliho itu kini sangat kecil. Padahal, keledai saja tidak mau jatuh ke lobang untuk kedua kalinya. Tinggal menunggu waktu saja... (asp/djo)











































