Berbagai motif digunakan untuk mempercantik hasil tenunan yang masih menggunakan peralatan manual ini. Motif ornamen burung, tumbuhan, binatang, garis simetris, zig-zag, segi empat, dan lainnya tersusun berderet, selang-seling dikombinasi degradasi warna yang serasi bahkan mengisi hampir seluruh bidang kain agaknya melahirkan daya pikat tersendiri.
Para perajin menggunakan kapas lokal yang dipintal di Lombok atau di Surabaya. Kemudian, benang tersebut diwarnai menggunakan pewarna alam. Kuning dengan kunyit, coklat dengan kulit kayu, warna merah menggunakan merah daun sirih dan ungu memakai nila.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hasilnya dapat berupa selendang, kain, taplak meja dan lain-lain. Harganya pun bervariasi dari Rp 50.000 sampai dengan Rp 2,5 juta tergantung besar kecilnya kain tenun, motif, benang dan lama pengerjaan. (Ari/irw)











































