Hillary Clinton Terkejut Dipilih Obama Jadi Menlu AS

Hillary Clinton Terkejut Dipilih Obama Jadi Menlu AS

- detikNews
Jumat, 05 Des 2008 10:19 WIB
Hillary Clinton Terkejut Dipilih Obama Jadi Menlu AS
Washington - Senator Hillary Clinton terkejut saat pertama kali mengetahui kemungkinan bahwa presiden terpilih Barack Obama akan menjadikannya Menteri Luar Negeri (Menlu) AS.

Demikian diungkapkan suami Hillary, mantan presiden AS Bill Clinton, dalam wawancara dengan stasiun televisi CNN, seperti dilansir News.com.au, Jumat (5/12/2008).

"Saya pikir dia terkejut ketika dia membaca spekulasi mengenai nominasi itu," ujar Clinton.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pada Senin, 1 Desember lalu, Obama menunjuk Hillary, bekas rivalnya dalam pemilihan pendahuluan Partai Demokrat, menjadi Menlu AS.

Tim Obama menetapkan beberapa persyaratan penunjukan Hillary sebagai Menlu AS. Salah satunya, Clinton harus membeberkan sekitar 200.000 pendonor yayasannya, Clinton Global Initiative.

Clinton pun menyetujuinya guna menghindari munculnya konflik kepentingan. Juga untuk menghapuskan kekhawatiran bahwa para pendonor mencoba mempengaruhi kebijakan internasional AS.

"Jika dia akan menjadi Menlu dan saya beroperasi secara global dan saya punya orang-orang yang menyumbang untuk upaya-upaya ini secara global, saya pikir penting untuk membuatnya benar-benar transparan," kata Clinton.

Menurut media New York Times, pembeberan para kontributor yayasan Clinton merupakan satu dari 9 persyaratan yang diteken Clinton selama pembahasan dengan tim Obama.

Persyaratan lainnya adalah Clinton harus memberikan lebih awal salinan setiap pidatonya dan aktivitas bisnis untuk dianalisa Departemen Luar Negeri AS dan kemungkinan Gedung Putih.

Clinton secara rutin mendapatkan bayaran maksimum 6 digit untuk berpidato bagi organisasi-organisasi asing. Mantan pemimpin negeri adikuasa itu kerap berkunjung ke luar negeri untuk tujuan bisnis dan amal.

Selama ini sebagian pendonor yayasan milik Clinton termasuk keluarga kerajaan Arab Saudi, Raja Maroko, yaysan terkait Uni Emirat Arab, pemerintah Kuwait dan Qatar serta seorang konglomerat yang merupakan menantu mantan presiden otoriter Ukraina. (ita/nrl)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads