Salim telah meninggal pada 2002 lalu. Namun kesaksiannya telah dia beberkan pada anaknya, Ubaydillah Thalib, yang kini aktif sebagai Ketua Dewan Pengurus Pusat Federasi Serikat Pekerja Farmasi dan Kesehatan.
"Teks itu tidak tersusun rapi seperti yang sekarang beredar, tapi memang diketik," ujar Ubay mengenang cerita ayahnya, kepada detikcom, di Tangerang, Kamis (4/12/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ayah saya yakin isinya tidak seperti itu. Tidak seperti itu bunyinya," jelas Ubay.
Ubay memperkirakan, isi teks sesungguhnya sama dengan pernyataan pidato Soekarno pada tanggal 17 Agustus 1966 yang bertajuk Djangan Sekali-kali Meninggalkan Sedjarah alias Djas Merah. Perintah Soekarno saat menerbitkan Supersemar hanyalah untuk meningkatkan pengamanan pemerintahan, pengamanan presiden dan pengamanan ajaran presiden.
"Tapi sayangnya yang melihat teks Supersemar itu hanya beberapa orang," keluh Ubay.
Keberadaan teks Supersemar asli memang masih menjadi misteri. Hingga saat ini Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) belum mampu mendapatkan kejelasan dari para saksi kunci keberadaan surat tersebut. ANRI sendiri memiliki 2 versi Supersemar yang isinya senada. Dengan wafatnya mantan Presiden Soeharto pada tanggal 27 Januari 2008 membuat sejarah Supersemar semakin sulit untuk diungkap.
(mad/nrl)











































