G-5 KOTI adalah sebuah organisasi berbasis intelijen yang dibentuk oleh mantan presiden Soekarno pada saat konfrontasi Indonesia-Malaysia terjadi.
Salim Thalib telah meninggal dunia pada 2002 lalu. Namun sepanjang hidupnya, dia tak pernah berhenti bercerita tentang "tempo doeloe" pada anaknya, Ubaydillah Thalib. Bahkan Ubay mewarisi semua dokumen-dokumen dari ayahnya menyangkut masa lalu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pak Sudharmono," ujar Ubay kepada detikcom di kediamannya di Tangerang, Kamis (4/12/2008).
Menurut informasi yang diperoleh dari ayahnya, 3 hari setelah Soeharto memperoleh
Supersemar, diadakanlah rapat di G-5 KOTI yang dihadiri oleh Letjen Sutjipto,
Letkol Sudharmono, Lettu Moerdiono, Mayjen Soeharto dan Salim Thalib. Usai
rapat, surat tersebut diberikan pada Sutjipto untuk dibaca, lalu Sutjipto
meminta Sudharmono untuk menyimpannya.
"Pak Darmono lalu menyuruh ayah saya untuk menyimpannya," kata Ubay.
Surat tersebut lalu disimpan di dalam tempat penyimpanan berkas di ruangan Sudharmono. Saat membawanya, Salim sempat membaca surat tersebut sekilas.
"Kata ayah, teks itu berbeda dengan yang sekarang beredar," jelas Ubay.
Selang beberapa bulan setelah pertemuan tersebut, G-5 KOTI dibubarkan oleh Soeharto. Para petinggi dan staf yang bekerja di G-5 KOTI dikembalikan ke institusi asalnya. Khusus bagi pegawai berlatar belakang sipil, diberi tugas di Sekretariat Negara dan Departemen Pertahanan dan Keamanan (Hankam).
"Namun Ayah saya memilih untuk mundur dan mengajar di perguruan Islam," kata Ubay.
Dengan adanya pembubaran G-5 KOTI, dokumen-dokumen yang berada di kantor pun dipindahkan. Salim, yang saat itu diperintahkan memindahkan berkas di ruangan Sudharmono terkejut saat mengetahui teks Supersemar yang dulu disimpannya hilang.
"Ayah saya sampai wafatnya nggak tahu siapa yang mengambil teks tersebut. Padahal ayah saya yang menyimpan dan ayah saya yang paling tahu lokasi barangnya," papar Ubay. (mad/nrl)











































