Menengok Kota di Ujung Timur Indonesia

Menengok Kota di Ujung Timur Indonesia

- detikNews
Jumat, 05 Des 2008 05:24 WIB
Menengok Kota di Ujung Timur Indonesia
Jayapura - Jangan lupa untuk minum pil antimalaria bila berkunjung ke Papua. Biasanya ini yang menjadi peringatan bagi para pelancong yang berkunjung, ke kota di timur Indonesia.
 
Selain itu tentunya, hati-hati dengan penyakit HIV. Ibukota Papua, Jayapura ini memang dikenal sebagai salah satu kota yang memiliki tingkat penularan yang tinggi.
 
Kota yang berada di sisi Teluk Jayapura ini, buat Anda yang belum pernah berkunjung memiliki kisah menarik. Misalnya saja soal babi. Hewan ini secara umum bagi warga Papua memang adalah yang paling berharga.
 
Bahkan ada anekdot menyebutkan banyak istri ditentukan berdasarkan jumlah babi. Jadi semakin banyak hewan babi, istri pun bisa lebih dari satu. Walau di perkotaan hal ini semakin berkurang, tapi di daerah pinggiran kota kebiasaan ini masih dipegang.
 
Lainnya soal hewan ini, hati-hati bila berkendara. Di beberapa tempat seperti di kawasan pinggiran kota, seperti Nafri atau Entrop babi kadang masih berkeliaran di jalan.
 
Peringatannya, jangan sampai menabrak hewan itu. Sebabnya bila yang ditabrak babi betina, kerugian dihitung berdasarkan jumlah puting susu hewan itu. Harga ditentukan sang empunya hewan, yang paling murah saja bisa 1 puting susu Rp 1 juta, dan babi bisa memiliki susu lebih dari 4.
 
Di atas hanya sekelumit kisah, persoalan utama yakni soal pembangunan terus bergerak. Tetapi yang masalahnya tentunya adalah kemiskinan. Ini yang berimbas pada munculnya ketidakpuasan, sehingga memicu keinginan memisahkan diri.
 
UU otonomi khusus yang sudah 7 tahun diterapkan seolah tidak bergigi. Uang yang mengucur dari pusat, seolah tidak menetes sampai ke bawah.
 
"Sistem birokrasinya," ucap Ketua Majelis Rakyat Papua (MRP) Agus Aluea A dalam sebuah kesempatan.
 
Bahkan Gubernur Barnabas Suebu mengakui korupsi menjadi penyakit kronis. Informasi menyebutkan, banyak kepala daerah yang merasa posisinya seperti ketua adat, sehingga uang Otsus dianggap sepenuhnya menjadi kepemilikan pribadi.
 
Yang juga menjadi isu mengenai pendatang. Mungkin karena ketidaksiapan warga lokal, berbagai bidang usaha dikuasai warga lainnya.
 
Kenapa ini menjadi penting? Beberapa anggota MRP mengemukakan ini dengan keras. Tentunya bila tidak cepat dicari solusi bisa saja 'ledakan terjadi' (semoga tidak).
 
Namun sedikit cerita terdengar. Minuman keras menjadi persoalan bagi warga lokal. Aturan pelarangan jam penjualan minuman alkohol pun coba digagas.
 
Tapi bagaimana kelanjutannya? Media setempat masih menyebutkan aturan ini masih terus dibahas pihak terkait.
 
Ya bagaimanapun, semoga saja warga Papua tidak menjadi miskin di tanah kelahirannya yang memiliki kekayaan alam melimpah. Tentunya tetap menjadi satu Indonesia.

(ndr/rdf)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads