"Dengan penandatanganan dan ratifikasi oleh negara pihak, maka diharapkan perdamaian dunia akan semakin terwujud," kata Menhan Juwono Sudarsono usai penandatangan Convention Cluster Munitions di Oslo, Norwegia, Rabu (3/12/2008) waktu setempat, seperti rilis Dephan yang diterima pukul 17.00 WIB.
Menurut Juwono, penandatanganan CCM diprakasai melalui konvensi regional pertama CCM di Sofia, yang dihadiri 42 negara Afrika serta sejumlah organisasi kemasyarakatan dan kemanusiaan dunia seperti Palang Merah Internasional (ICRC). Saat itu disepakati untuk menggelar diskusi tentang dampak Cluster Munitions bagi kemanusiaan dan perdamaian dunia di Kampala, Uganda tanggal 29-30 September 2008.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebab, diungkapkan Juwono, di kawasan regional Asia Tenggara juga terkontaminasi akibat penggunaan cluster munitions. Beberapa negara seperti Laos, Vietnam dan Kamboja merupakan negara yang paling menderita di mana jutaan munisi telah tertanam namun tidak meledak, akibatnya rakyat sipil terbunuh hingga kini.
Pada bagian lain di dunia pada area konflik, penggunaan cluster munitions terbukti menyebabkan bencana serta dampak bagi kemanusiaan hingga dampak jangka panjang setelah konflik berakhir. Contohnya selama konflik Libanon-Israel sejak tahun 2006, jutaan bom curah yang digunakan tidak meledak.
Hal ini sangat berdampak pada rakyat sipil dalam jangka panjang dan menyebabkan masalah terhadap aktivitas pemulihan di Libanon Selatan.
"Cluster Munitions yang tidak meledak dikhawatirkan dapat mencelakakan pasukan pemelihara perdamaian PBB termasuk personel TNI yang menjadi bagian dari UNIFIL," imbuhnya.
Oleh sebab itu, dalam pertemuan Oslo ditegaskan, penggunaan cluster munitions sebagai senjata yang mematikan dapat menodai konvensi dan dilarang digunakan, serta agardimusnahkan.
"Negara harus menunjukkan komitmen mereka untuk menandatangi konvensi yang melarang penggunaan cluster munitions," tegasnya. (zal/rdf)











































