Betapa Lengkap dan Nyaman Perpustakaan di Austria

Laporan dari Wina

Betapa Lengkap dan Nyaman Perpustakaan di Austria

- detikNews
Rabu, 03 Des 2008 15:57 WIB
Betapa Lengkap dan Nyaman Perpustakaan di Austria
Wina - Tak dipungkiri, salah satu sumber ilmu yang paling mudah dan praktis diperoleh manusia adalah dengan membaca buku. Bahkan, dengan semakin majunya teknologi, kini buku tak hanya berbentuk sebendel kertas yang terjilid dengan aneka cover.

Aneka macam buku makin mudah diakses hanya dengan mengklik situs maya internet, atau biasa disebut e-book. Kemudahan transfer informasi dan teknologi komunikasi, ditambah dengan mahalnya harga buku sekarang ini, memang membuat orang makin meninggalkan membaca buku. Orang lebih tertarik mengarungi dunia internet, atau menikmati cakram digital
multi media.

Kalaupun harus membaca buku, mereka tinggal mengunduh lewat internet. Namun, tentu saja, membaca buku yang bergerak di layar komputer bisa jadi tak senyaman membaca buku langsung ditangan. Selain kurang nyaman, pembaca pun harus terkoneksi dengan jaringan internet terlebih dahulu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berangkat dari keprihatinan inilah, pemerintah Austria akhirnya putar otak untuk menyiasati persaingan dengan teknologi. Pemerintah Austria, dalam hal ini StadtWien mempunyai cara jitu merebut perhatian masyarakat agar kembali ke buku ‘kertas’. Empat puluh tujuh perpustakaan milik StadtWien atau Bucherei disebar di seluruh kota Wina dan sekitarnya.

Ketika detikcom mengunjungi salah satu Bucherei di daerah Rochusgasse, saya menemukan fakta ternyata perpustakaan ini bukan perpustakaan biasa. Hanya dengan 3 Euro/tahun atau sekitar Rp 40 ribu, saya bisa meminjam buku sesuka hati. Tak hanya satu, dua atau tiga buku, namun kita bisa meminjam maksimal sebanyak 20 buku dalam satu kali peminjaman.

Jika diperpustakaan lain membatasi lama peminjaman hingga maksimal 1 minggu, di Bucherei StadtWien, kita bisa meminjam hingga 4 minggu alias 1 bulan.

"Jika anda belum juga selesai membacanya dalam 4 minggu, anda bisa melakukan perpanjangan maksimal 2x1 bulan, alias 2 bulan", ujar Herr Frohlich salah satu staf pengelola Bucherei.

Bagaimana dengan koleksinya? Ternyata koleksi buku di Bucherei sangat lengkap. Mulai dari komik anak anak hingga buku khusus dewasa tersedia. Khazanah buku ilmu pengetahuan dan buku pelajaran pun juga ada. Dengan lengkapnya koleksi buku serta penataan ruang yang rapi dan nyaman, saya merasa berada di toko buku Kinokuniya yang terkenal lengkap itu. Tapi, saya sempat bertanya tanya, apakah koleksi buku di Bucherei cukup update?

Meskipun tidak seupdate buku yang beredar di toko buku, namun Bucherei ternyata selalu mengikuti tren penjualan buku. "Kami selalu mengupdate buku buku baru yang relatif diminati oleh publik, atau buku buku best seller pada umumnya”, ujar Herr Frohlich kembali.

Benar saja, contohnya buku Harry Potter ketujuh sudah bisa ditemukan di Bucherei 1 bulan setelah dilaunching waktu itu. Tak terlalu lama menurut saya, jika kita bisa bersabar sedikit.

Bucherei tampaknya sadar juga akan pelanggannya yang berasal dari berbagai negara
dan tentu saja bahasa. Tak hanya Jerman dan Inggris, namun buku buku berbahasa asing populer seperti Prancis, Spanyol, Mandarin, Rusia dan Italia pun juga menjadi proprerti Bucherei. Bahkan saya sempat melongok buku buku berbahasa Serbia, Kroasia dan India di salah satu rak nya.

Adakah bahasa Indonesia disana? Memang belum ada, namun Herr Frohlich punya jawaban yang
menghidupkan semangat saya. "Anda boleh ikut menyumbangkan buku jika mau berbagi buku disini. Kami sangat terbuka untuk itu," ungkapnya.

Saya semakin berbinar ketika melihat deretan rak berisi koleksi DVD dan CD di salah satu sudut Bucherei. Ternyata, meski namanya Bucherei atau gerai buku namun ternyata mereka tak mau ketinggalan jaman. Mau cari DVD atau CD apa saja, bisa dibilang tersedia. Musik, pelajaran, hiburan, film atau dokumenter, tinggal pilih.

"Untuk DVD atau CD, peminjam harus memberikan deposit sebesar 1 euro untuk periode waktu peminjaman yang sama dengan peminjaman buku", kata Herr Frohlich kembali.

Wah, kalau begitu, toko buku, atau toko musik bisa- bisa gulung tikar dong?

Mengarungi dunia buku, pembaca boleh jadi lelah, lapar dan bosan. Jangan kuatir, ternyata ada café makanan dan minuman yang siap mengatasi rasa lapar dan dahaga para pengunjung Bucherei. Tapi yang satu ini tentu tidak gratis, anda harus merogoh kocek untuk bisa membaca sambil makan dan minum.

Berbicara tentang kepraktisan, Bucherei menawarkan berbagai kemudahan bagi pelanggannya untuk melakukan peminjaman buku. Lewat situs web milik Bucherei, peminjam buku bisa melakukan reservasi buku, membaca katalogisasi buku buku, bahkan bisa memperpanjang periode peminjaman buku tanpa harus datang ke salah satu gerai. Sangat simple, peminjam hanya tinggal melakukan sign up dan masuk ke entri yang diinginkan. Saat saya akan beranjak meningalkan Bucherei, saya sempat memperhatikan sebuah pengumuman di pintu keluar Bucherei. Tertulis ‘Buchen Flohmarkt am Freitag’ yang artinya penjualan buku bekas pada hari Jumat.

Menurut Herr Frohlich, setiap bulannya, Bucherei mengadakan bursa buku bekas. Mereka menjual buku-buku lama dengan harga sangat murah. Contohnya 10 buku hanya seharga 1-3 euro, tergantung macam buku. Menggiurkan bukan?

Saya jadi menyadari betapa signifikannya kebijakan seperti ini untuk menggiatkan gerakan masyarakat mau membaca. Buktinya, saat saya berkunjung kesana sudah 5 grup anak anak sekolah ramai ramai mengantre untuk melakukan pengecekan buku di depan front office.

Diantara mereka bahkan ada yang membawa karung tas khusus karena meminjam segepok buku. Wah, jika sudah begini, membaca tak lagi menjadi momok karena terkadang terlalu banyak
alasan. Pentingnya membaca juga bukan isu yang hanya dikoar koarkan oleh pemerintah. Semuanya diwujudkan dengan aksi yang konkrit, tak sebatas ucapan atau simbolisasi.

Bagi masyarakat disini, tak perlulah mereka memperingati hari Buku Nasional, hari Pendidikan Nasional, atau acap kali gunting pita melaunching perpustakaan buku. Membaca buku, bagi masyarakat disini telah menjadi kebutuhan, bukan semata mata simbolisasi yang harus dipertontonkan.

(sal/rdf)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads