Saripah, adalah salah satu dari puluhan Pedagang Kali Lima (PKL) yang dilarang menjajakan dagangannya di depan Istana Merdeka. Padahal sudah dari pukul 08.00 WIB, wanita setengah baya ini mangkal di depan Istana untuk mengais rezeki dari para demonstran lumpur Lapindo yang siang ini kembali berunjuk rasa.
"Iya, kami diusir. Mau lewat saja nggak boleh," ujar Saripah kepada detikcom sembari mendorong dagangannya di depan Kantor Sekretariat Negara, Jl Veteran III, Jakarta, Rabu (3/12/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Puluhan botol air mineral dan teh botol memenuhi gerobak Saripah. Untuk wanita seumuran Saripah, gerobak beserta isinya tersebut tergolong berat. Tapi dengan semangat wanita berusia 40-an tahun ini tetap menjajakan dagangannya sambil jalan.
"Ya muter-muter saja, habis di depan Istana nggak boleh," imbuhnya.
Saripah, yang berasal dari Madura, Jawa Timur ini mengaku sudah lama berjualan sebagai PKL di Jakarta. Diusir oleh aparat, bukan hal yang baru baginya.
"Sering diusir-usir, apalagi kalau di daerah dekat Istana," ujarnya pasrah.
Namun, demi menghidupi keluarga dan membantu suaminya yang bekerja tidak tetap di Jakarta, Saripah tetap harus berjualan. "Yang penting halal," pungkasnya.
(anw/rdf)










































