Bersama puluhan teman seprofesi, Saripah diusir oleh polisi yang berjaga-jaga di depan Istana. Padahal, Swlasa (2/12/2008) kemarin, dia masih bebas berjualan di sana bersama dengan para PKL lainnya.
"Iya, kami diusir. Mau lewat saja nggak boleh," ujar Saripah kepada detikcom sembari mendorong dagangannya di depan Kantor Sekretariat Negara, Jl Veteran III, Jakarta, Rabu (3/12/2008).
Puluhan botol air mineral dan teh botol memenuhi gerobak Saripah. Untuk wanita seumuran dia, gerobak beserta isinya tersebut tergolong berat. Tapi dengan semangat, wanita berusia 40-an tahun ini tetap menjajakan dagangannya sambil jalan. "Ya muter-muter saja, habis di depan Istana nggak boleh," imbuhnya.
Saripah, yang berasal dari Madura, Jawa Timur ini mengaku sudah lama berjualan sebagai PKL di Jakarta. Diusir oleh aparat, bukan hal yang baru baginya. "Sering diusir-usir, apalagi kalau di daerah dekat Istana," ujar dia pasrah.
Namun, demi menghidupi keluarga dan membantu suaminya yang bekerja tidak tetap di Jakarta, Saripah tetap harus jualan. "Yang penting halal," pungkas dia. (anw/asy)











































