"Hasilnya tidak menggembirakan. Belum ada kesepakatan. Masa malah mau dicicil, kita gak setuju dong. Kita akan terus bertahan," ujar Oki Rahmadi (36) salah seorang korban Lapindo ketika berbincang dengan detikcom di teras Masjid Istiqlal, Jakarta, Selasa (2/12/2008).
Oki ke Jakarta memboyong istri dan dua orang anaknya. Ia terpaksa membawa anaknya yang masih bemumur 8 dan 5 tahun, karena di Surabaya tak ada yang merawatnya.Â
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tas dan Handphone Hilang
Tak tahan melihat anaknya sakit, Oki lalu mencoba menghibur anaknya dengan membawanya jalan-jalan ke Monas. Namun sayangnya tas berisi pakaian dan handphone malah ketinggalan di bajaj.
Â
"Anak saya nangis. Saya cegat bajaj ke Monas. Tapi belum sampai masuk, ada instruksi suruh pulang ke masjid. Saat kembali ke masjid, saya lupa tas saya ketinggalan di bajaj. Nggak dikembaliin. Itu ada baju, ada peralatan istri saya, sama handphone," keluhnya sedih.Â
Nasib sedih juga dialami Khoirul Iksan. Sejak perusahaan pipa tempatnya bekerja ikut terendam lumpur, dia terpaksa bekerja serabutan.
"Kalau secara materil, okelah kalau dipenuhi kita impas. Tetapi yang tak tergantikan immateriilnya. Mata pencaharian kita, masa depan anak-anak, kan susah itu. malah 60 orang sakit jiwa, sekarang dirawat di RS Menur," ungkapnya.
Selain menginap di Masjid Istiqlal, ratusan korban lumpur lainnya juga menginap di Sekretariat Kontras dan LBH. Mereka terpaksa tidur di lantai dengan beralas koran.
(gun/asy)











































