"Saya terus terang belum lihat. Tapi bisa dilihat siapa yang mengeluarkan. Kalau lembaga yang mengeluarkan kredibel mungkin bisa dipertimbangkan. Kalau nggak ya bisa jadi sama palsunya," kata Pambudi saat berbincang dengan detikcom, Senin (1/12/2008).
Pambudi pun menduga, tiga surat yang ditulisnya di dalam buku 'Supersemar Palsu' juga bukan naskah asli. Dua surat diperolehnya dari Sekretariat Negara (Setneg) dan satu sisanya kopian surat perintah yang disimpan oleh M Jusuf.
Ketiga surat itu berbeda-beda meski tidak memiliki perbedaan signifikan dalam isinya. "Dugaan saya, ketiganya itu juga palsu. Yang aslinya masih disimpan oleh Soeharto," ujarnya.
Dari ketiga Supersemar itu, kata Pambudi, tidak ada yang secara eksplisit mengatakan sampai kapan pengalihan kekuasaan dari Soekarno kepada Soeharto itu akan berlangsung. "Tidak ada yang secara eksplisit mengatakan begitu," katanya.
Namun, kata Pambudi, asli atau tidaknya Supersemar itu sudah tidak berpengaruh lagi. Sejarah tidak akan berubah saat Supersemar asli ditemukan.
"Sekarang persoalannya yang mana yang asli dan yang mana yang palsu, itu saja. Sudah tidak ada lagi perdebatan politisnya," tandasnya. (ken/iy)











































