"Saya bukan pro JK, bukan pro siapa-siapa. Tapi kalau tidak ada JK, pemerintah tidak akan jalan. Yang praktis, bukan yang luar negeri. SBY bagus, tapi soal ekonomi, politik dalam negeri, keamanan siapa yang menyelesaikan?" kata Syafi'i.
Hal itu disampaikan cendekiawan Muslim ini usai acara forum kajian sosial kemasyarakatan ke-42 dengan topik 'Dunia Islam Perlukah Berharap pada Obama?' di Intiland Tower, Jl Jend Sudirman, Jakarta Pusat, Rabu (26/11/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi kalau Anda lihat pada zaman Soekarno-Hatta yang jadi gasnya adalah Soekarno, sedangkan remnya adalah Hatta. Tapi ini kan terbalik. Ini gasnya Jusuf Kalla. Tapi its OK lah," kata Buya, begitu Syafi'i akrab disapa.
Syafi'i menepis anggapan bahwa dirinya dianggap lebih menghargai JK daripada SBY.
"Tidak. Saya menghargai keduanya. Masih banyak persoalan yang perlu kita pikirkan bersama. Tapi kan belum ada penyelesaian fundamental terhadap soal ekonomi baik JK atau SBY yang bertanggung jawab soal ini. Angka kemiskinan masih tinggi, korupsi dilawan tapi masih banyak birokrasi, masih belum terjadi reformasi," tutur Syafi'i. (nik/nwk)










































