"Kita hadapi itu dengan sabar, Deplu melakukan reaksi dan klarifikasi atas berita itu dan jangan emosional, sebab statemen itu mungkin bisa bersifat institusional dan sepihak," kata Muladi di sela-sela jumpa pers penyelenggaraan Kuliah Reguler di kantornya, Jl Kebon Sirih, Jakarta, Rabu (26/11/2008).
Menurut Muladi, pihaknya tidak mengetahui kebenaran akan peristiwa itu, karena Adam Malik sudah meninggal dunia.
"Tapi kita tahu karakter dia (Adam Malik). Tidak mungkin diklaim sebagai agen, baik di Murba. Saya kira tidak mudah dibeli," jelasnya.
Apalagi, lanjut Muladi, kasus itu terjadi pada tahun 1964 saat Adam Malik menjabat Dubes RI di Moscow. Jadi, imbuh Muladi, hal inilah yang disebut pengaruh intelijen yang bisa dilakukan secara kelembagaan. Artinya, orang bisa direkrut secara kelembagaan dan ada imbalan tertentu, yang disebut institutional recruitmen.
"Tapi ada juga yang diklaim secara sepihak atas dasar-dasar kontak informal, seperti saya yang Gubernur Lemhannas dikontak oleh dubes-dubes dan juga Dubes AS. Mungkin secara sepihak, mereka mengklaim bahwa Muladi sudah bisa digarap dan dilaporkan pada pimpinannya dan secara intensif digarap, meskipun tidak diberi uang," kata politisi Partai Golkar ini.
"Paling tidak ada 'brain washing' bahwa kepentingan AS bisa didukung oleh orang tertentu di Indonesia sebagai local friend, bisa militer dan sipil, itu bisa terjadi," imbuh dia.
Oleh karenanya, Muladi menyarankan kepada setiap pejabat yang memiliki jabatan strategis harus hati-hati dalam berhubungan dengan orang asing.
"Mana yang harus dikemukakan, mana yang tidak, setiap orang tahu. Jangan sampai membukakan rahasia negara pada mereka. Di samping itu, pejabat itu harus punya wawasan yang luas dan baik, jangan sampai diklaim jadi agen negara tertentu," tegasnya. (zal/nwk)











































