"Jika pada saat yang sama media memberitakan hal yang sensasional akan mengakibatkan musibah kepada bisnis pariwisata," kata Presiden Asia Pasific Broadcasting Union (ABU) Yoshinori Imai usai Konferensi ABU di Bali International Convention Center, Nusa Dua, Selasa (25/11/2008).
Pemberitaan terorisme yang berlebihan dan penuh sensasi berdampak buruk pada bisnis pariwisata di semua negara, seperti di Jepang, Thailand, Indonesia.
Sementara itu, MTV/MBC Sri Langka Chevaan Daniels mengatakan pemerintah dan media perlu membangun konsensus dan hubungan yang kuat. Menurutnya, suatu kesalahan jika pemerintah berpikir media mengganggu perekenomian negara dan media juga perlu memahami bahwa pemerintah harus bertanggung jawab kepada publik.
Pariwisata dan terorisme adalah dua hal yang bertolak belakang. Terorisme banyak memberikan pengaruh negatif terhadap perekonomia serta selalu menggangu kenyamanan dan keamanan sedangkan pariwisata sangat sensitif terhadap keamanan.
"Media diharapkan membuat berita terorisme sesuai fakta sehingga dampak pemberitaan sesuai dengan porsinya termasuk dampaknya dengan pariwisata," kata Daniels.
Sementara itu, Dirut RRI Parni Hadi mengatakan pemberitaan terorisme secara berlebihan menimbulkan kesan pelakunya sebagai pahlawan. Ia mencontohkan pemberitaan terhadap eksekusi Amrozi cs justru menimbulkan
persepsi bahwa para pelaku bom Bali I ini sebagai pahlawan.
Selain tentang terorisme, konferensi ABU juga membahas tentang peran media terhadap ancaman HIV/Aids dan lingkungan.
(gds/nrl)











































