Demikian hasil penelitian biaya hidup mahasiswa Yogyakarta tahun 2008 yang dipaparkan peneliti Fakultas Ekonomi Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran, Ardito Bhinadi di Seven Resto Jl C. Simanjuntak Yogyakarta, Selasa (25/11/2008). Survei itu dilakukan bekerjasama dengan Bank Indonesa (BI) Yogyakarta.
"Ini menarik untuk dicermati, ternyata pengeluaran untuk membeli pulsa HP lebih besar daripada untuk membeli buku pelajaran yakni 7 persen dibanding 3 persen," kata Ardito.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dalam setahun mereka memberikan sumbangan terhadap pendapatan daerah sebesar Rp 4,6 triliun atau 12,25 persen dari PDRB DIY," katanya.
Untuk biaya pondokan, kata Ardito, rata-rata sebesar Rp 220.100/bulan atau Rp 2.641.200/tahun. Mereka lebih banyak memilih pondokan yang berdekatan dengan kampus tempat studi. Selain itu, mahasiswa juga lebih suka memilih makan di warung tenda daripada makan di restoran.
"Alasannya harga terjangkau dan lebih dekat. Dan ini bisa menggerakan roda perekonomian sektor informal terutama yang berdekatan dengan kampus dan pondokan," kata Ardito didampingi Kepala BI Yogyakarta, Tjahjo Oetomo.
Menurut dia, penelitian itu dilakukan terhadap 300 responden terdiri 53 persen laki-laki dan 47 persen dengan usia rata-rata 21-25 tahun. Sebagian besar responden berasal dari Jawa, yakni 77 persen. Sedangkan dari Sumatera 14 persen, Kalimantan 6 persen dan sisanya 3 persen dari berbagai wilayah lainnya di Indnesia.
"Responden juga berasal dari berbagai bidang ilmu, terbesar non eksakta 51 persen, teknik 28 persen, eksakta 16 persen dan kedokteran 5 persen dengan tahun masuk studi 2004 - 2008. Dan mereka mempunyai indeks prestasi kumulatif (IPK) antara 3-3,5 sebesar 59 persen, IPK di atas 3,5Β sebesar 15 persen, IPK 2,50-2,99 sebesar 21 persen dan kurang dari 2,50 sebanyak 5 persen," pungkas dia. (bgs/djo)











































