"Ini sebagai bentuk tuntutan kita," kata salah satu mahasiswa, Saprol kepada detikcom di depan pintu masuk kampus, Jl KH Dewantara I, Kelurahan Gunung Kelua, Kecamatan Samarinda Utara, Samarinda, Kalimantan Timur, Selasa (25/11/2008) dinihari.
Hingga Senin 24 November sore kemarin, peserta mogok makan bertambah menjadi 3 orang. Rizal yang juga mahasiswa Fisip, menyatakan bergabung dengan rekan-rekannya yang sudah lebih dulu mogok makan. Aksi ini telah mereka lakukan selama enam hari.
Tuntutan ini mereka nilai sebagai hal yang wajar sebagai bentuk ketidakpuasan mahasiswa. Rektor, lanjut Saprol, dianggap tidak transparan terhadap penggunaan dana pembangunan kampus atau dana rehabilitasi fakultas yang setiap tahunnya digulirkan Pemprov Kaltim.
"Ternyata masih ada mahasiswa yang perkuliahannya masih menumpang di
fakultas lain. Kemana saja uang itu? Pokoknya dana itu harus diaudit secara transparan," ujar Saprol.
Lebih jauh Saprol mengatakan, aksi mogok makan juga sebagai bentuk protes atas diberhentikannya lebih 200 mahasiswa oleh rektorat beberapa hari lalu lantaran berbagai alasan.
"Karena aturan yang dibuat kampus, justru dilanggar oleh kampus. Dimana
letak keadilan?" tanya Saprol.
Menanggapi aksi tersebut, Juru Bicara Kampus, Mulyadi mengatakan
desakan tersebut tidak berdasar. Mulyadi menegaskan keputusan kampus
untuk memberhentikan mahasiswa tidak akan ditarik kembali.
"Lagipula kami menduga aksi itu sudah tidak murni dari mahasiswa
kami," jelas Mulyadi.
Dari informasi yang dihimpun detikcom, aksi mogok makan ini akan dibubarkan secara paksa oleh petugas keamanan kampus. Mahasiswa pun sudah berjaga-jaga untuk memastikan kebenaran rencana tersebut. Mulyadi yang dikonfirmasi membenarkan informasi tersebut.
"Rencananya begitu. Tapi kita berupaya persuasif," jelasnya. (mok/ddt)











































