Hal itu terungkap dalam hasil penelitian Lembaga Demografi FE UI pada pertengahan tahun 2008 yang dipaparkan dan diwakili oleh peneliti Abdillah Ahsan di Hotel Acacia, Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat, Senin (24/11/2008).
Obyek penelitian 451 buruh tani (244 buruh laki-laki dan 207 buruh perempuan), 66 petani pengelola, dan 66 buruh tani anak di Bojonegoro (Jawa Timur), Kendal (Jawa Tengah), dan Lombok Timur (NTB) dengan metode wawancara kuesioner terstruktur dan wawancara mendalam. Responden diambil dengan purposive sampling karena tiga provinsi itu memproduksi 89 persen produksi rokok di Indonesia. Β
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sedangkan 16 persen memilih pindah ke pertanian lain dimana seperempatnya memilih padi, dan lebih dari 50 persen tidak tahu mau memilih apa.
"Petani membutuhkan bimbingan, dukungan, dan pembinaan dari pemerintah dalam hal ini," imbuh dia.
Sedangkan petani pengelola yang ingin beralih ke usaha lain sebanyak 64 persen. Dari jumlah itu,Β 54 persen memilih usaha pertanian. Padi dipilih 29 persen responden buruh tani disamping jagung, sayur mayur, cabe,dan kacang-kacangan.
Pada satu musim tanam atau 4 bulan, imbuh Abdillah, untuk lahan satu hektar penerimaan petani Rp 12,4 juta dengan total biaya Rp 8,3 juta.
"Profitnya hanya Rp 4 juta. Itu hanya untuk 4 bulan. Bagi saja jumlah itu, 1 bulan hanya dapat Rp 1 juta. Bahkan ada yang 1 musim hingga 6 bulan masa tanam," ujar Abdillah.
Padahal keuntungan itu kecil dibandingkan dengan risiko yang harus dihadapi. Yaitu, risiko perubahan cuaca yang mempengaruhi kualitas tembakau, serangan hama, penurunan pembelian olah pabrikan, dan perubahan harga.
"Petani menanam sampai mamanen terus dijual ke gudang. Kalau gudang menolak, petani harus tanggung risiko. Padahal petani harus bayar hutang sebagai modal awalnya dengan bunga yang tinggi," papar Abdillah.
Selain itu, petani tidak punya posisi tawar untuk menentukan harga. Karena kualitas daun dikelompokkan atau di grade oleh grader dari pabrikan rokok.
"Ada 40 tingkatan daun tembakau dengan harga Rp 500-Rp 25 ribu per kilogram. Bisa saja petani menganggap daunnya grade 3, tapi grader menganggap itu grade 15. Ada perbedaan persepsi kualitas tembakau," kata dia.
Abdillah juga mengatakan dalam kurun waktu 1961-2001 luasan lahan tembakau relatif konstan. 1,2 Persen dari luasan lahan tanaman semusim, dan malah menurun 0,8 persen pada 2005. Sementara produksi rokok meningkat 7 kali lipat dari 35 miliar batang menjadi 235 miliar batang.
"Dari mana kekurangan supply-nya? Diperoleh dari impor. Jadi, tidak ada hubungan dengan banyaknya konsumsi dengan produksi dan luas lahan. Fluktuasi jumlah petani rook tidak dipengaruhi konsumsi rokok," papar dia.
(nwk/mok)











































