Di depan para operator itu, kapal pendorong lumpur tergolek begitu saja. Posisinya tepat di tengah sungai Kali Mati, Pademangan, Jakarta Utara, yang penuh lumpur hitam pekat. Sampah plastik dan rumah tangga makin melengkapi kotornya sungai.
Di depan kapal bercat biru tersebut, sudah teronggok segunung lumpur hitam. Lumpur tersebut merupakan hasil kerja kapal sejauh 50 meter. Prosedurnya, lumpur itu harus dikeruk oleh alat berat "back hoe" dan diangkut menggunakan truk sampah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mudah kok mengoperasikan kapal," kata Amir Zulkifli di lokasi pengerukan lumpur, Jl Pademangan Raya, Jakarta Utara, Senin (24/11/2008).
Mengoperasikan kapal mudah. Tetapi apakah efektif dan efisien? Tampaknya perlu dipikir ulang. Dengan 3 sopir sekaligus, tentu akan menambah ongkos kerja yang tidak sedikit. Terlebih, kondisi sungai yang membelah pemukiman padat, akan menyulitkan back hoe dan truk sampah berukuran besar melakukan aktivitasnya.
Pemprov DKI yang akan membeli kapal pendorong tersebut sepertinya lupa satu perkara. Sungai di Jakarta berbeda dengan sungai-sungai di Eropa.
Di negeri asalnya, kapal pendorong lumpur dapat saja digdaya. Sebab lumpur sungai di sana tidaklah setebal dan sekotor sungai di Jakarta. Infrastruktur untuk pengeruk dan jalan truk juga memungkinkan.
Berkebalikan dengan Jakarta. Terbukti, saat mendorong lumpur Kali Mati, kapal itu hanya berjalan 50 meter. Kemudian, berharap pada sopir back hoe dan truk menjadi sia-sia belaka. Sebab, belum ada koordinasi ketiga belah pihak dan membuat pekerjaan itu berhenti total.
Ke depannya, sulit dibayangkan bagaimana 3 kapal mungil itu mampu bekerja mendorong lumpur di 13 sungai pembelah Jakarta. Untuk mendorong lumpur Kali Mati sepanjang 1.200 meter (panjang Kali Mati 2.000 meter) saja sudah terseok-seok. Ini Jakarta, Meneer!
(Ari/irw)











































