"Serahkan saja pada anak muda itu sendiri, karena golput barangkali dikaitkan dengan kejenuhan, karena pilkada begitu-begitu sehingga menimbulkan kejengkelan terhadap proses yang begitu banyak memakan waktu, uang dan tenaga," kata Juwono di sela-sela sebuah acara di kantor Ditjen Potensi Pertahanan, Dephan, Jakarta, Senin (24/11/2008).
Juwono tidak melihat adanya sesuatu yang membahayakan dengan munculnya ide golput dalam pemilu tersebut. "Tahun depan dalam pemilu legislatif atau presiden, jumlah pemilih akan cukup tinggi, tetap di atas 80 persen prediksi saya," jelasnya lagi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Terkait banyak daerah yang ricuh akibat pilkada, Juwono menyatakan, hal itu karena persaingan pribadi, kelompok dan masing-masing parpol. "Tapi mereka tidak bertindak untuk memisahkan diri dari paham ke Indonesiaan. Itu cuma persaingan kesempatan dalam pilkada, baik walikota, bupati, atau gubernur. Mereka tidak mengarah pada tidak puas jadi orang Indonesia. Itu tidak dipersoalkan," tegasnya.
Hanya saja, lanjut Juwono, yang dipersoalkan sebatas persoalan kecurangan dalam penghitungan suara. "Ini bagian demokratisasi tentang penghitungan suara. Jadi wajar saja," imbuhnya.
Juwono juga berharap, setiap krisis yang terjadi justru untuk memperkokoh rasa keadilan lintas suku, agama dan kedaerahan, sehingga kebangsaan dalam globalisasi abad 21 semakin kokoh. "Saya tidak sepakat bahwa wawasan kebangsaan dan Pancasila pudar di kalangan generasi muda," pungkasnya. (zal/anw)











































