Sejumlah tokoh Sumut menilai, kedekatan tokoh asal Sumut ini dengan beberapa agen asing bisa dimaklumi, mengingat profesinya yang pernah jadi wartawan. Namun kalau Adam Malik menjadi mata-mata asing, itu dianggap tidak mungkin.
Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sumut, Efendy Naibaho menyatakan, figur sekelas Adam Malik tentulah bisa ditelaah jejak rekamnya. Semua upaya yang dilakukannya untuk memajukan bangsa yang baru saja merdeka bisa dilihat dokumentas sejarah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Naibaho yang sebelumnya pernah menjadi wartawan The Jakarta Post menyatakan, profesi wartawan yang dulu dilakoni Adam Malik dahulu tentulah membuat dia berteman dengan berbagai kalangan. Mulai dari lapisan terbawah hingga lapisan teratas.
"Sebagai wartawan, memang harus demikian pergaulannya. Hal itu menyebabkan dia bisa berkenalan dengan banyak orang. Bisa jadi, hal ini yang dianggap membuat dia dianggap sebagai spionase. Kalau berkawan sama intel, apa berarti juga otomatis menjadi intel?" tukas Naibaho yang berasal dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).
Sebab itu, Naibaho menyarankan pemerintah untuk melakukan klarifikasi. Pertama klarifikasi kepada Amerika Serikat untuk mendapatkan kepastian, kemudian mengklarifikasi di dalam negeri untuk meluruskan persepsi yang keliru mengenai Adam Malik sebagai agen CIA.
Hal senada diungkapkan anggota DPR RI asal Sumatera Utara Nasril Bahar. Dia menyatakan, merupakan sesuatu yang mustahil jika Adam Malik bersedia menjadi mata-mata untuk Amerika Serikat. Perjuangan yang dilakukannya untuk negara sungguh luar biasa, tidak mungkin dia menggadaikan negara untuk kepentingan diri sendiri.
"Hal-hal seperti ini, isu-isu buruk tentang pelaku sejarah, jika tidak diklarifikasi dengan cepat, akan berbahaya bagi generasi muda. Penghargaan mereka kepada pelaku sejarah, para pahlawan akan luntur. Ini justru lebih berbahaya. Makanya harus cepat dituntaskan,” ujar Nasril Bahar di Medan.
Menurut Nasril, di Sumut, Adam Malik merupakan tokoh panutan. Nama putra asal Kota Pematang Siantar ini sangat harum dan diabadikan dalam berbagai hal yang monumental. Mulai dari nama jalan, nama rumah sakit, hingga rencana beberapa kelompok masyarakat yang akan menabalkan nama Adam Malik sebagai nama untuk Bandara Kuala Namu, yang akan menggantikan Bandara Polonia Medan.
Penyebutan nama Adam Malik sebagai salah satu mata-mata CIA, kata Nasril, merupakan sesuatu yang harus ditanggapi dengan serius. Jangan sampai nantinya tokoh-tokoh dan pelaku sejarah lainnya justru dijadikan olok-olokan. Ketegasan pemerintah dalam mengatasi masalah ini, akan berimplikasi baik agar tidak pada upaya-upaya sejenis yang dilakukan pihak lainnya di kemudian hari.
"Memang Adam Malik merupakan milik bangsa, bukan milik masyarakat Sumatera Utara saja, tetapi penyebaran isu buruk atas nama Adam Malik seperti yang dilansir buku tersebut sangat mengecewakan masyarakat Sumut," ujar Nasril.
(rul/djo)










































