Terlepas dari benar tidaknya hal itu, penulis buku tersebut, Tim Weiner bukanlah penulis kacangan.
Pria berusia 52 tahun itu pernah meraih penghargaan bergengsi Pulitzer Prize. Bahkan karena bukunya "Legacy Of Ashes The History Of CIA" laris manis, Weiner telah mendapatkan kontrak baru untuk menulis dua buku lagi bertema keamanan nasional. Satu buku mengenai sejarah FBI dan buku lainnya mengenai sejarah militer AS sejak Perang Dunia II.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Weiner telah menulis tentang CIA, badan intelijen Amerika itu selama 20 tahun terakhir. Dia telah bepergian ke Afghanistan dan negara-negara lain untuk menyelidiki operasi tersembunyi CIA.
Selain itu Weiner juga telah pergi dan melaporkan dari 18 negara, termasuk Pakistan, Sudan, Liberia, Kuba, Haiti dan Filipina untuk meliput perang, kudeta dan kebijakan luar negeri AS.
Weiner bergabung dengan koran ternama AS, The New York Times pada tahun 1993. Dia pernah menjadi koresponden keamanan nasional di Washington dan koresponden asing di Meksiko.
Weiner meraih Pulitzer Prize pada tahun 1988. Penghargaan itu diraihnya sewaktu menjadi reporter investigasi di media Philadelphia Inquirer. Weiner meraih Pulitzer tersebut untuk tulisannya soal laporan nasional AS mengenai pembelanjaan Pentagon dan CIA.
Tulisannya itu kemudian dituangkan dalam bentuk buku. Pada tahun 1990, Weiner pun meluncurkan buku pertamanya, yang berjudul "Blank Check: The Pentagonโs Black Budget".
Mulai tahun 1993 hingga 1999, Weiner menjadi reporter biro Washington yang meliput CIA untuk The New York Times.
Weiner pun meluncurkan buku ketiganya berjudul "Legacy of Ashes: The History of the CIA" yang menjadi pemenang non-fiksi penghargaan National Book Award 2007 dan merupakan salah satu buku terlaris di AS dan Inggris.
(ita/nrl)











































