luka. Lalu gejala apa saja yang bisa dijadikan patokan oleh seseorang bila dirinya dideteksi sebagai penderita hemofilia?
"Gejala-gejala penderita hemofilia antara lain sulit menghentikan pendarahan, kaku sendi, bengkak, panas dan nyeri paska pendarahan sehingga terkadang penderita mengalami keterbatasan gerak sendi," kata dokter spesialis penyakit dalam RSCM Djajadiman Gatot.
Hal tersebut dikatakannya dalam acara media edukasi yang membahas soal hemofilia di Hotel Grand Hyatt, Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, Jumat (21/11/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
tetapi sebagian besar hemofilia terjadi secara internal, biasanya pada sendi-sendi. Sendi yang paling sering diserang adalah lutut, pergelangan dan siku.
Pendarahan pada otot yang paling serius pada lengan bawah dan betis. Beberapa pendarahan seperti di kepala, kerongkongan dan usus bahkan mengancam nyawa apabila tidak ditangani dengan cepat.
"Penderita hemofilia mudah mengalami pendarahan, benturan bisa mengakibatkan pendarahan di dalam apalagi sampai terjadi luka, pendarahannya sukar dihentikan," jelas Djajadiman.
Terapi hemofilia terus berkembang dalam dua dekade terakhir riset terus dilakukan dalam upaya mencari cara untuk meningkatkan kualitas hidup penderita hemofilia. Terapi on-demand diberikan untuk menyikapi episode pendarahan, Prophylaxis dapat mencegah pendarahan dan menghindari kerusakan sendi.
Pengobatan hemofilia juga semakin maju, dengan ditemukannya obat antihemofili rekombinan faktor VIII. Dengan demikian penderita hemofili dapat mengkonsumsi obat sendiri tanpa bantuan selang infus.
(gah/ndr)











































