Mamma mia! Duet ibu dan puterinya ini menyihir para penikmat musik klasik di gedung prestisius Czech Museum of Music, Praha, Kamis malam tadi atau Jumat (21/11/2008) WIB hari ini.
Kepiawaian duo ini mengingatkan pada si jenius maestro piano Belanda saat ini, Wibi Soerjadi (38), pianis berkulit sawo matang keturunan Indonesia tapi dikagumi Ratu Beatrix dan menjadi kebanggaan nasional Belanda. Duo Sudiarso ini 100% Indonesia, berkonser mengharumkan nama Indonesia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Konser ini membuktikan bahwa Indonesia tidak hanya kaya dengan kebudayaan tradisional, namun juga memiliki banyak musisi moderen berbakat," Dubes Salim Said dalam sambutan pembukaan.
Salim menjelaskan, bahwa konser ini menandai eratnya hubungan antara bangsa Indonesia dan Ceko, serta menjadi klimaks dari rangkaian aktifitas kebudayaan yang telah digelar KBRI Praha sepanjang tahun 2008 ini dalam rangka merayakan 50 Tahun Hubungan Kebudayaan Indonesia-Ceko.
Menurut Salim, sepanjang tahun KBRI Praha telah mempromosikan kebudayaan Indonesia dengan penampilan tari tradisional, lagu dan musik, teater moderen, festival film, dan pameran kebudayaan. Tidak hanya di Praha tetapi juga di kota-kota lain seperti Brno, Usti nad Labem, hingga Vaseli Nad Morovau.
"Dan sekarang kami tampilkan piano klasik oleh duo ibu dan puterinya," tandas Salim bangga. Melalui langkah yang ditempuhnya ini dia telah mempresentasikan Indonesia sebagai bangsa besar kaya kebudayaan, dari tradisional, klasik Eropa, hingga kekinian.
Duo Sudiarso membuka konser dengan denting Sonata No 16 K545 karya Wolfgang Amadeus Mozart dalam nada C Mayor, ditranskrip oleh Edvard Grieg dengan tempo alegro, andante, rondo-alegro. Gebrakan jari-jemari dua skrikandi Indonesia ini disambut aplaus gegap gempita, segera setelah dentingan terakhir komposisi ini menguap di udara.
Usai Sonata 16, menyusul Waltz No.1 Op.15 karya Anton Arensky, Introduction and Rondo Capriccioso Op.28 karya Camille Saint-Saens hasil transkrip Debussy, kemudian komposisi 'lagu dolanan' karya klasik Walter Gieseking dan Dmitri Shostakovitch.
Kejutan dipersembahkan Duo Sudiarso dengan masterpiece karya komposer besar Indonesia, yakni Sriwijaya (Amir Pasaribu, 1915), Sarinande (Trisuci Kamal, 1935) dan Tembang Alit (Jaya Suprana, 1949).
Sentuhan 'klasik-etnik' ini disempurnakan dengan Slavonic Dance karya komposer legendaris Ceko, Antonin Leopold Dvorak. Dengan dahsyat duo Sudiarso memainkan komposisi ini dalam nada G Minor, disusul standing ovation dan ekspresi kekaguman penonton berupa karangan bunga. (es/es)











































