Vander de Oliveira adalah staf SBY saat bertugas di Bosnia, tahun 1995-1996 lalu. Saat itu, SBY yang masih berpangkat Brigadir Jenderal menjabat sebagai Chief Military Observer (CMO). Sedangkan Oliveira yang berasal dari Angkatan Udara Brazil itu menjadi Military Assistant (MA) to CMO.
Dalam pertemuan singkat itu, mata Oliveira tampak berkaca-kaca karena dia tidak akan mengira bisa bertemu mantan bosnya itu. SBY juga senang karena bisa bertemu dengan mantan anak buahnya di negeri Brazil.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tapi sekarang sudah tidak lagi, karena ada permasalahan di matanya, sehingga tidak mendapat sertifikasi menjadi pilot," kata SBY kepada wartawan di sela-sela kunjungannya ke Rio De Janeiro seperti dilaporkan wartawan detikcom Arifin Asydhad.
Saat ini, Oliveira tinggal di Sao Paolo, sekitar 700 KM dari Rio De Janeiro. Tepatnya, dia tinggal di Cidede Jardim 13632-563/Pirassununga Sao Paolo, Brazil. Dia tiba di Rio De Janeiro sekitar pukul 11.00 setelah berangkat dari Sao Paolo yang khusus akan bertemu SBY.
Oliveira mengetahui pertama kali SBY menjadi Presiden Indonesia ketika membaca berita Aceh dilanda tsunami pada akhir 2004 lalu. Saat membaca berita itu, awalnya dia tidak percaya bahwa SBY menjadi presiden Indonesia. "So many Yudhoyono in Indonesia," kata Oliveira saat itu saking tidak percaya.
Namun, setelah melihat dan membaca berita mengenai Aceh itu kembali, dia semakin yakin bahwa Yudhoyono yang menjadi Presiden Indonesia itu adalah bosnya saat menjadi pasukan perdamaian di PBB tahun 1995-1996 lalu. Apalagi, dalam berita itu ditulis 'Retired General Susilo Bambang Yudhoyono'. Meski tidak memiliki akses ke SBY, namun Oliveira sangat gembira dengan prestasi SBY.
Dia sempat bicara dengan anaknya saat membaca berita-berita mengenai itu"Percaya gak anakku, bahwa saya dulu pernah menjadi asisten orang yang kini menjadi presiden Indonesia," cerita Oliveira yang memuji SBY dengan pemimpin masa depan.
Dalam pertemuan itu, Oliveira membawa serta kartu nama SBY saat menjadi CMO di Bosnia. Dia juga membawa serta foto bersama SBY saat sama-sama bertugas di Aceh. Kedua barang tua itu selama ini masih disimpan rapi oleh Oliveira. Saat foto dan kartu nama itu diperlihatkan oleh Oliveira, SBY tampak terharu.
Lantas bagaimana Oliveira bisa bertemu SBY? Ceritanya memang serba kebetulan. Sesaat mendarat di Bandara Brasilia, Selasa (18/11/2008) lalu, Presiden SBY tiba-tiba teringat terhadap mantan anak buahnya itu. Namun, saat itu SBY lupa nama stafnya itu, karena sudah 12 tahun tak berkomunikasi. SBY kemudian meminta Asisten Sespri Presiden SBY, Kolonel Kustanto Widiatmoko, untuk melacak dan mempertemukannya.
Dengan bantuan Atase Pertahanan KBRI untuk Brazil Kolonel Supomo, akhirnya mantan anak buah SBY itu terlacak. Melalui informasi yang didapatkan dari koleganya di Angkatan Udara Brazil, Kolonel Supomo mendapatkan konfirmasi bahwa nama staf SBY itu adalah Vander de Oliveira dan saat ini tinggal di Sao Paolo. Informasi mengenai Oliveira itu baru diterima Supomo pada Rabu (19/11/2008) sore.
Lantas, Supomo pun menghubungi Oliveira. Dan akhirnya dibuatlah jadwal pertemuan di Hotel Marriott Rio De Janeiro. Setelah mendapat tiket pesawat terbang, Oliveira bertolak dari Sao Paolo pada Kamis dan tiba di kawasan Copacabana pada pukul 11.00. Setelah menunggu sesaat, Oliveira pun bertemu SBY pertama kali setelah 12 tahun berpisah.
Ikut dalam pertemuan yang mengharukan itu adalah Ibu Ani Yudhoyono, Kolonel Supomo, Kolonel Kustanto Widiatmoko, dan dr Aris Wibudi, dokter pribadi Presiden.
Kolonel Kustanto, yang juga merupakan mantan Asisten SBY saat di Bosnia, saat ditemui detikcom menceritakan bahwa Oliveira menjadi asisten SBY sekitar 2 bulan. Saat itu, merupakan masa transisi, karena baru saja ada perpindahan jabatan CMO lama yang dipegang oleh jenderal bintang satu dari Argentina kepada SBY sebagai CMO yang baru.
"Biasanya, yang menjadi MA to CMO adalah perwira dari negara asal CMO. Oliveira ini sebelumnya adalah MA untuk CMO lama. Jadi, sebelum ada MA yang baru dari Indonesia, Oliveira masih bertugas sebagai MA to CMO," kata Kusnanto.
Setelah sekitar 2 bulan menjadi MA to CMO dalam masa transisi, akhirnya Oliveira pun kembali ke negaranya dan berpisah dengan SBY. Saat itu, MA to CMO dipegang oleh Mayor Mamahid (saat ini kolonel). Mamahid hanya menjadi MA to CMO dalam waktu singkat, dan posisinya digantikan oleh Kustanto yang dulu berpangkat kapten. Kustanto menjadi MA to CMO terakhir SBY di Bosnia.
Keterangan Foto:
1. Oliveira berpose bersama SBY dan Ibu Ani
2. Dari kiri ke kanan: Kolonel Supomo, dr Aris, Ibu Ani, SBY, Oliveira, dan Kolonel Kustanto
(asy/asy)











































